Website – Underlying asset atau aset dasar merupakan komponen penting yang harus dicermati dalam sebuah instrumen investasi keuangan. Dari investasi derivatif hingga kontrak berjangka, investor harus benar-benar mencermati underlying asset ini sebagai pertimbangan investasi.

Sebelum memahami lebih jauh tentang berbagai instrumen investasi yang melibatkannya, mari kita pelajari dulu lebih dalam tentang underlying asset ini. Untuk itu kita bisa memulainya dari memahami terlebih dahulu tentang derivatif.

Underlying Asset dalam Instrumen Derivatif

Mengutip laman Infovesta, derivatif adalah kontrak bilateral atau perjanjian penukaran pembayaran yang nilainya diturunkan dari produk yang menjadi ‘acuan pokok’ atau disebut sebagai underlying product.

Dalam derivatif, alih-alih memperdagangkan suatu aset secara fisik, pelaku pasar membuat sebuah perjanjian untuk saling mempertukarkan uang, aset, atau suatu nilai di masa yang akan datang dengan mengacu pada aset yang menjadi acuan pokok.

Nah derivatif ini digunakan oleh manajemen investasi/manajemen portofolio, perusahaan, dan lembaga keuangan, ataupun investor perorangan untuk mengelola risiko dari pergerakan harga saham, komoditas, suku bunga, dan valuta asing, tanpa secara langsung memengaruhi posisi aset dasarnya.

Dalam praktinya banyak sekali instrumen finansial yang dapat dikategorikan sebagai kelompok derivatif, salah satunya adalah kontrak berjangka atau futures. Berdasarkan laman KPEI, kontrak berjangka adalah suatu kontrak yang mewajibkan para pihak untuk membeli atau menjual sejumlah underlying asset tertentu pada harga tertentu dan dalam waktu tertentu di masa yang akan datang.

Harga kontrak berjangka ini sendiri akan dipengaruhi oleh aset yang menjadi dasar dari kontrak berjangka tersebut. Contohnya, jika indeks LQ45 menjadi underlying asset, maka harga kontrak berjangka ini akan dipengaruhi oleh pergerakan indeks itu.

Dalam perdagangan kontrak berjangka yang disebut IDX LQ45 Futures ini terdapat istilah short atau posisi jual dan long atau posisi beli. Penentuan posisi tersebut tergantung pada prediksi dan analisa masing-masing investor.

Jika investor memiliki rasionalitas dan analisis yang menunjukkan bahwa arah pergerakan Indeks LQ45 akan naik, maka posisi yang paling tepat adalah posisi long. Sebaliknya, investor yang memprediksi arah pergerakan Indeks LQ45 akan turun, maka posisi yang paling tepat adalah posisi short.

Underlying Asset pada Sukuk

Selain pada instrumen derivatif di atas, underlying asset juga digunakan dalam berbagai instrumen investasi lainnya. Salah satu contoh yang mudah untuk dipahami adalah sukuk atau semacam surat utang syariah yang menggunakan underlying asset. Kriteria khusus underlying asset pada sukuk membuatnya berbeda dengan instrumen surat utang lainnya.

Dikutip dari Republika, underlying asset diperlukan dalam setiap penerbitan sukuk korporasi karena dalam sistem ekonomi Islam, semua transaksi keuangan harus berkaitan dengan sektor riil.

Maka, begitu pula dengan sukuk sebagai instrumen keuangan harus disertai dengan aset riil dalam setiap penerbitannya. Dengan demikian, sukuk tetap memiliki keterkaitan dengan sektor riil.

Dalam penerbitan sukuk, aset yang dijadikan underlying harus punya nilai keekonomian atau memiliki aliran penerimaan kas, dapat berupa aset yang berwujud (seperti gedung, tanah atau bangunan lainnya) atau aset yang tidak berwujud (berupa jasa), nilai manfaat atas aset berwujud, maupun proyek yang akan atau sedang dibangun.

Hal yang paling penting dari aset yang menjadi underlying adalah aset ini tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Selain itu, pihak penerbit sukuk harus menjamin bahwa selama periode sukuk, aset yang menjadi underlying tidak akan bertentangan dengan prinsip syariah.

Diatur lebih jauh dalam peraturan OJK Nomor 18 Tahun 215 tentang Persyaratan dan Penerbitan Sukuk, ada beberapa aset yang bertentangan dengan prinsip syariah. Beberapa contohnya adalah barang/aset/jasa yang terkait dengan perjudian, jasa keuangan ribawi, dan jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian.

Selain itu, barang/aset/jasa yang tidak sesuai prinsip syariah adalah yang berkaitan dengan memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan barang atau jasa haram, barang atau jasa haram bukan karena zatnya yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, dan barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. Sehingga, dalam konteks ini, aset seperti pabrik rokok atau minuman keras tidak bisa dijadikan underlying asset untuk sukuk.

Underlying Asset pada Reksa Dana

Contoh terakhir dari underlying asset yang dapat ditemui dalam instrumen investasi adalah pada reksa dana. Sebagai instrumen yang dikelola oleh manajer investasi, underlying asset pada reksa dana bisa beragam, dari mulai saham, pasar uang, efek syariah, obligasi, atau campuran seluruhnya.

Manajer investasi akan mengelola dana kelolaan nasabahnya dan menempatkannya pada efek dasar atau underlying asset yang disampaikan dalam prospektusnya. Tentu ada koridor yang diatur dalam penempatan dana ini.

Misalnya, produk reksa dana A, membatasi penempatan dana di pasar uang pada rentang 5%-75%, saham 5%-30%, dan efek lainnya 5%-80%.

Ketika hendak membeli unit reksa dana, jangan lupa untuk memastikan hal ini pada bagian prospektus dan fund fact sheet. Jangan sampai terjebak membeli reksa dana hanya karena angka-angka kenaikan persentase harga yang ditampilkan. Karena sangat mungkin terjadi seorang investor pemula justru terjerumus pada hal ini.

Dengan memahami underlying asset dari sebuah unit reksa dana, Anda dapat menilai secara potensi keuntungan dan risiko yang ada pada instrumen tersebut. Contohnya, reksa dana yang mayoritas komposisi underlying-nya adalah saham tentu punya risiko yang berbeda dengan reksa dana yang mayoritas underlying asset-nya adalah obligasi.

Bahkan, Anda juga bisa lebih jauh tentang aset-aset saham apa saja yang ada dalam instrumen reksa dana tersebut untuk menentukan keputusan investasimu.

Sebaik-baiknya cara belajar tentang underlying asset dan investasi seperti pada reksa dana ini, tentunya harus dilakukan dengan memulai investasi itu sendiri. Jadi jangan ragu untuk segera memulai perjalanan investasimu di aplikasi Ajaib!

Kamu tidak perlu khawatir karena aplikasi ini telah mendapatkan izin resmi dari OJK dan menjadi salah satu platform investasi digital terdepan saat ini.

via ajaib