Investasi, JAKARTA – GIC Private Limited, perusahaan investasi Singapura kembali melebarkan sayap bisnis di Indonesia. Kali ini GIC masuk dengan berinvestasi pada emiten Bukalapak (IDX: BUKA).

GIC melakukan penambahan kepemilikan di BUKA pada 5 Agustus 2021, atau sebelum IPO. Harga yang dibayar oleh GIC untuk menjadikan kepemilikan 11 persen dari sebelumnya 8,8 persen adalah Rp 850 per lembar. Artinya GIC membayar Rp 1,36 triliun untuk peningkatan kepemilikan ini. 

“GIC dan Archipelago memegang saham untuk kepentingan pemerintah Singapura dan MAS yang merupakan pemilik manfaat dari saham-saham [yang dikelola GIC],” tulis Loh Sze Ling dan Diane Liang, Senior VP GIC, dalam surat bertanggal 7 Agustus 2021 itu. 

Nama GIC Private Limited bukan entitas baru di pasar modal Indonesia. Perusahaan sovereign wealth funds (SWF) milik pemerintah Singapura itu telah keluar masuk berinvestasi di Tanah Air dengan strategi jangka panjang. 

Investasi dari GIC yang secara terbuka terpantau di Bursa Efek Indonesia berdasarkan informasi KSEI per 10 Agustus 2021 terdapat pada tiga entitas yakni PT Bank Jago (IDX: ARTO), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) dan PT Bukalapak.com Tbk. (IDX: BUKA). 

BACA JUGA: Bank Jago (IDX: ARTO) Miliki Rp10 T, Dipakai untuk Apa?

Investasi terbuka di sini adalah pernyataan resmi GIC yakni surat Bukalapak ke BEI pada 9 Agustus 2021. Dalam pernyataan resmi itu, GIC dan Archipelago Investment Pte. Ltd. adalah entitas yang merupakan perpanjangan tangan dari Pemerintah Singapura dan Otoritas Keuangan Singapura (MAS). Artinya, kinerja investasi GIC di BEI mengacu pada dua entitas ini. Meski demikian, sebagai SWF, seringkali GIC beroperasi di Tanah Air dengan beragam perusahaan cangkang yang identitasnya mesti ditelusuri lebih dalam untuk menunjukkan pengendali akhirnya.

Archipelago menjadi pemegang saham EMTK pada Desember 2014. Perusahaan investasi ini menempatkan dana Rp2,49 triliun untuk 8,07 persen saham atau setara 455 juta lembar. Harga yang dibayar Archipelago  saat itu adalah Rp5.490 per saham. Setelah harga terus melambung, EMTK kemudian melakukan stok split 1:10 pada awal 2021. Dengan harga saham EMTK Rp 2.260 per lembar, artinya Archipelago telah untung 311 persen dalam 5,8 tahun. 

Sepanjang akhir Mei-akhir Juli 2021 lalu, Archipelago terlihat mulai merealisasikan keuntungan dari EMTK. Perusahaan terlihat melakukan divestasi dengan taksiran nilai yang terkumpul Rp 532 miliar. Meski demikian, perseroan masih memiliki 7,1 persen saham EMTK. 

BACA JUGA: IPO Bukalapak (BUKA), Ini Susunan Pemegang Saham Terbesar Saat Ini

Sedangkan di Bank Jago, GIC menggenggam ARTO sebanyak 8,07 persen. Kepastian itu diumumkan manajemen Bank Jago pada 24 Maret 2021. Saat itu GIC masuk ARTO dengan harga Rp 2.350 per lembar. Dalam perdagangan 10 Agustus 2021, saham ARTO sudah berada pada level Rp 16.000 per lembar. Artinya, investasi pada perusahaan calon bank digital itu, perusahaan telah untung 580 persen dalam 5 bulan. 

Kini, dalam surat yang sama, perusahaan SWF yang berinvestasi di 40 negara di dunia itu menyebutkan bahwa mereka telah menambah kepemilikan di PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) menjadi total 11 persen. 

Saham yang dikelola oleh GIC di Bukalapak itu terdiri dari 1,35 persen atas nama GIC Private Limited S/A GOS, The Northern Trust Company S/A Government of Singapore. Selanjutnya 9,44 persen juga untuk pemerintah Singapura melalui The Northern Trust Company S/A Archipelago Investment Pte. Ltd. Sedangkan selebihnya 0,23 persen merupakan dana kelolaan dari OJK-nya Singapura, MAS. 

BACA JUGA: IPO Hasnur Shipping (HAIS), Ini Profil Jayanti Sari & Zainal Hadi Pemegang Saham Pengendali

GIC  saat ini mengelola aset sekitar US$ 360 miliar atau sekitar Rp 5.220 triliun. Mereka menempatkan investasinya dengan tujuan jangka panjang dan tersebesar pada 40 negara di Asia minus Jepang (26 persen), Amerika (34 persen), Jepang (8 persen), Amerika Latin (3 persen), Inggris (5 persen), Timur Tengah hingga Afrika (5 persen), Eropa (9 persen), dan sisanya tersebar di berbagai negara. 

Disebutkan dalam laporan per Maret 2021, aset GIC ini ditempatkan pada surat utang (39 persen), investasi di emerging market equities  (17 persen), developed market equites (15 persen), private equity  (14 persen), sedangkan selebihnya tersebar termasuk real estate.

Lalu bagaimana pergerakan harga saham BUKA setelah pengumuman makin kuatnya peran GIC? Grafik harga saham unikorn BUKA justru mengalami tekanan hebat. Saham BUKA diperdagangkan di zona merah dan menyentuh auto rejection bawah (ARB) pada hari ke-3 perdagangan.

Saham BUKA dalam penutupan perdagangan Selasa, 10 Agustus 2021 berakhir di zona merah pada level Rp 1.035 per lembar atau -6,76 persen secara harian. 

Kini dengan meningkatnya saham GIC, apakah investor memilih investasi jangka panjang atau justru melepas saham ini dalam beberapa waktu ke depan?

via tempias