Iran mengungkapkan minggu ini bahwa superkomputer barunya yaitu Simorgh, telah memulai debutnya dengan puncak kinerja hingga 0,56 petaflops dan berencana untuk mencapai 1 petaflop dalam dua bulan.

Simorgh dikatakan sepenuhnya dirancang dan dibangun oleh tim insinyur Iran, yang mengembangkan superkomputer pertama di negara itu satu dekade yang lalu, tetapi beberapa perangkat kerasnya telah diimpor. Tidak jelas dari mana Universitas Teknologi Amirkabir, yang mengembangkan Simorgh dapat mengimpor suku cadang yang diperlukan untuk membangun system.

Pemerintah AS telah memberlakukan pembatasan keras pada penjualan teknologi Amerika atau produk yang dibuat menggunakan teknologi tersebut. Seperti prosesor dan GPU yang paling umum digunakan dalam supercomputer kepada perusahaan yang beroperasi di Iran. Sebagain dari keluhan pemerintah AS tentang Huawei adalah bahwa perusahaan tersebut diduga menghindari sanksi Amerika untuk menjual peralatan ke Iran.

Itu bukan satu-satunya motivasi di balik blaclist Huawei, akan tetapi itu berfungsi sebagai pengingat yang berguna bahwa AS memiliki kebijakan ketat terkait ekspor ke Iran. Hal ini juga berfungsi sebagai contoh bagaimana negara-negara Iran dapat menghindari sanksi AS.

Superkomputer ini dikatakan terdiri dari 42 rak di area seluas 250sq meter berdasarkan standar TIA-942 dan diproyeksikan akan ditingkatkan menjadi 84 rak yang diletakkan di area seluas 400sq meter.

Pemerintah Iran dikabarkan telah menyediakan setengah dari anggaran pembangunan sebesar $ 4.5 juta. Superkomputer ini akan digunakan dalam menganalisis Artificial Intelligence, mengolah data lalu lintas cuaca, serta pemrosesan gambar. Ini juga diikuti oleh supercomputer lain yaitu Maryam, yang diharapkan memiliki kapasitas 100 kali Simorgh.

Saat ini superkomputer terkuat di dunia adalah sistem berbasis Arm di Jepang yang disebut Fugaku. Hal ini dikatakan menawarkan kinerja hingga 415,5 petaflops. Tertinggi berikutnya yaitu IBM Summit yang menawarkan 148,6 petaflops. Target 100 petaflop Maryam tidak ada artinya jika dibandingkan.

Mengingat hubungan AS dan Iran, AS memperjelas bahwa pengembangan supercomputer di negara-negara yang memiliki ketegangan secara serius diperlukan dengan memasukkan tujuh perusahaan China ke blacklist karena membantu membangun supercomputer untuk Tentara Pembebasan Rakyat China.

via Pemmzchannel