Investasi, JAKARTA – PT Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) mengumumkan mengalami kerugian bersih tahun berjalan sebesar Rp 132,85 miliar per Juni 2021. Kerugian ini mengalami pembalikan keadaan dari periode yang sama tahun lalu. 

Pada pembukuan Juni 2020,  perseroan mencatatkan laba bersih tahun berjalan Rp 19,6 miliar. Dengan kata lain BBYB mengalami lonjakan kerugian sebesar 782 persen pada Juni 2021 dibanding Juni 2020.

Berdasarkan laporan keuangan BBYB yang disampaikan pada Minggu, 29 Agustus 2021, perusahaan dalam konglomerasi keuangan Alibaba dari China itu mencatatkan lonjakan pendapatan bunga sebesar 27,7 menjadi Rp 300,29 miliar. BBYB juga berhasil menaikkan pendapatan operasional. Pos non bunga itu naik dari Rp 27,04 miliar menjadi Rp 31,69 miliar. 

Akan tetapi, kenaikan pendapatan tidak mampu menutup beban yang harus dibayarkan perusahaan. BBYB hingga Juni 2021 terlihat mengalami lonjakan beban yang sangat tinggi. Melonjak lebih dari 177 persen.

Pada semester I/2020 lalu, beban yang harus dibayarkan perusahaan sebesar Rp 100,27 miliar. Akan tetapi sepanjang 6 bulan pada tahun ini, beban yang harus dibayarkan menjadi Rp 277,02 miliar. 

Lonjakan beban perseroan terjadi di semua pos. Lonjakan terbesar terjadi pada pos pemasaran. Rinciannya, pos tenaga kerja naik dari Rp 38,96 miliar menjadi Rp 60,21 miliar, beban administrasi dan umum naik dari Rp 44,61 miliar menjadi Rp 85,60 miliar.

Pada pos pemasaran naik dari Rp 5,87 miliar menjadi Rp 104,76 miliar. Sedangkan kerugian bersih penurunan aset naik dari Rp 10,82 miliar menjadi Rp 26,43 miliar. Beban pemasaran ini pada penjelasan laporan keuangan didominasi oleh sponsorship atau bagi sebagian kalangan dianggap sebagai ajang ‘bakar uang’ sebesar Rp 104,47 miliar dari periode sebelumnya Rp 277,12 juta. 

BACA JUGA: Gocek Saham BBYB, Berkah Alibaba dan Pedang Pora untuk Asabri

Meski berbalik rugi, BBYB tercatat membukukan lonjakan aset dari Rp 5,4 triliun menjadi Rp 6,99 triliun. BBYB juga mengalami lonjakan dana pihak ketiga dari Rp 3,32 triliun menjadi Rp 4,6 triliun.

Selain itu, Bank Neo juga mencatatkan lonjakan aset lain-lain yakni dari Rp 536 miliar menjadi Rp 1,29 triliun. Lonjakan tersebut diklasifikasikan dalam laporan keuangan perusahaan sebagai tagihan lain. Manajemen BBYB tidak mendetailkan jenis tagihan lain yang dimasukkan ke dalam laporan keuangan.

Ekuitas BBYB per 30 Juni 2021 dilaporkan sebesar Rp 1,2 triliun. Modal ini bersumber dari modal saham Rp 915,99 miliar, tambahan modal disetor Rp 350,5 miliar. Sedangkan laba ditahan ditentukan penggunaannya Rp 20,61 miliar, dan tidak ditentukan penggunaannya -Rp100 miliar,  Selanjutnya perubahan nilai aset Rp 5,37 miliar dan surplus revaluasi Rp 41,6 miliar.

Saat kinerja berbalik rugi, BBYB mengumumkan akan menyelenggarakan public expose (pubex) insidentil terkait kinerja saham perusahaan. Seperti diketahui sepanjang tahun berjalan (year to date), harga saham BBYB telah naik 455,21 persen ke level Rp 1.590 pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Agustus 2021. 

Kenaikan harga saham BBYB itu kemudian membuat direksi Bursa Efek Indonesia berkirim surat kepada manajemen pada 26 Agustus 2021 untuk menyelenggarakan pubex insidentil. 

Aditya Wahyu Windarwo, Plt Direktur Risiko dan Kepatuhan BBYB menyebutkan pubex akan diselenggarakan pada 6 September 2021 mendatang secara virtual melalui zoom meeting. 

“Pelaksanaan public expose insidentil ini akan dihadiri oleh direksi perseroan atau paling sedikit satu dereksi perseroan,” kata Aditya. 

via tempias