Investasi, JAKARTA – PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (IDX: DMMX) mengumumkan pemegang saham terakhirnya pada pekan lalu. 

Dikutip Minggu, 12 September 2021, pengendali DMMX di atas 5 persen per 31 Agustus 2021 terdiri dari NFC Indonesia atau NFCX (27,65 persen), Jaya Distribusi Ritel (21,08 persen), Soteria Wicaksana investama (10,37 persen), Sicepat Ekspres Indonesia (5,68 persen), Bank Of Singapore Limited (5,6 persen) serta dimiliki sendiri oleh DMMX (5,63 persen). 

Lalu siapa pemilik DMMX, perusahaan dengan bidang usaha jasa penyedia platform media digital itu? 

Dilihat kembali dalam prospektus perusahaan saat IPO pada akhir 2019 lalu, pemegang saham DMMX di belakang PT Jaya Distribusi Ritel (JDR) saat prospektus diterbitkan terdiri dari Agustinus L, GE Retno C, Yanty M, Budiasto Kusuma dan Supardi Tan dengan kepemilikan sama besar yakni masing-masing 20 persen dalam JDR.

Budiasto Kusuma saat ini menjabat sebagai Direktur Utama, sedangkan Supardi Tan sebagai direktur.  

Selanjutnya NFCX merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh Nusantara Teknologi Perkasa,  Kresna Jubileum Indonesia, MCash Integrasi (IDX: MCAS), dan Kresna Graha Investama (IDX: KREN). 

Pengendali akhir entitas di atass adalah PT Kresna Graha Investama Tbk. (KREN). Lainnya, NFCX dimiliki oleh PT 1 Inti Dot Com milik Ninik Kusumowati Tjahjono dan publik.  

Dalam laman Linkedin, Ninik mencantumkan posisinya sebagai direktur keuangan Media Karya Nusantara (MKN), salah satu entitas anak dari KREN. Meski dijelaskan 1 Inti Dot Com secara hukum tidak terkait Kresna. 

BACA JUGA: Saham Digital Mediatama (IDX: DMMX), Bidang Usaha, Prospek dan Profil Pengendali

Dalam laporan yang sama, Soteria Wicaksana investama, merupakan entitas sepengendali dengan KREN. Atau dengan kata lain pemilik KREN dan pemilik Soteria adalah pihak yang sama (sister company).

Sedangkan terakhir, siCepat Express, perusahaan rintisan dengan bidang usaha logistik terlihat aktif di pasar modal beberapa waktu terakhir. Terbaru, pada 3 Agustus 2021 lalu juga memborong 18 persen saham PT Panca Global Securities Tbk (IDX: PEGE)

Dalam kesempatan terpisah, Budiasto Kusuma, Direktur Utama DMMX menyebutkan produk digital telah menjadi kebutuhan masyarakat dan digarap dengan serius oleh perusahaan. 

Dalam diskusi bersama  PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Jumat, 10 September 2021, Budiasto mengatakan DMMX berkomitmen menciptakan inovasi baru untuk memperkuat toko kelontong dalam Sampoerna Retail Community (SRC) yang menggunakan produk aplikasi Pojok Bayar dari DMMX. 

“DMMX menjalin kerjasama dengan SRC dengan penyediaan Pojok Bayar sejak 2019,” kata Budiasto dalam diskusi yang disiarkan melalui kanal Youtube SRC Indonesia. 

Dia mengatakan dukungan digital yang diberikan aplikasi Pojok Bayar memberi kemudahan toko kelontong sebagai pilihan dan bersaing dengan toko ritel modern.

“Produk digital memberi kemudahan, sehingga toko kelontong tetap menjadi tempat belanja,” katanya.

Laporan keuangan paling baru dari DMMX, per Juni 2021, mencatat perusahaan mengalami pertumbuhan pendapatan yang signifikan yakni dari Rp 220 miliar menjadi Rp 363,57 miliar. 

Meski pendapatan melonjak tajam, laba kotor perusahaan hanya naik tipis yakni dari Rp 23,34 miliar menjadi Rp 28,43 miliar. 

Setelah dikurangi beban usaha, maka laba DMMX tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yakni jika dibulatkan sekitar Rp 12,5 miliar. 

Akan tetapi laba akhir perusahaan per Juni 2021 terlihat melonjak tajam menjadi Rp 115 miliar. Pemegang saham DMMX memasukkan harga pasar saham treasury dalam pos pendapatan. 

“Investasi lainnya merupakan investasi surat berharga yang dimiliki untuk diperdagangkan berupa saham sebanyak 50.000.000 unit,” tulis perusahaan tanpa menjelaskan emiten apa saja yang menjadi dasar perhitungan. 

Sementara dalam laporan akhir 2020, DMMX melaporkan telah melakukan digitalisasi pada 83.881 UMKM, atau tumbuh 67 persen YoY dibanding 50.182 UMKM pada tahun 2019. 

Perusahaan juga tengah melakukan pengembangan smart retail dengan mengandeng  BRI dan Taspen dalam mengembangkan Kios Warga. Saat ini perusahaan menargetkan bisa menghadirkan 100.000 kios warga dalam beberapa tahun ke depan. 

“Jika dilihat dari ASN aktif dan Pensiunan saat ini adalah berjumlah 6,5 juta orang, maka jumlah 100.000 hanya 1,5 persen dari jumlah potensial yang dimiliki taspen saat ini, sehingga kami sangat optimis jumlah tersebut bisa tercapai,” ujar Budiarto kala itu.

[embedded content]

via tempias