Bulan Ramadan di depan mata, saatnya umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Bagaimana dengan si kecil, apakah akan turut berpuasa juga, Bunda? Jika iya, yuk simak beberapa tips mengajari anak puasa.

Mengajari anak puasa bisa dilakukan saat anak berusia tiga tahun ke atas. Di usia itu, anak sudah lebih paham perintah dan aturan. Namun, jangan berharap terlalu tinggi pada anak-anak yang belum baligh ini ya, Bunda. Mereka belum wajib berpuasa. Di masa ini, kita hanya mengenalkan dan melatih anak berpuasa sesuai kemampuannya.

1. Cerita tentang Puasa

Cara menyenangkan ajari anak puasa/ Foto: Canva

Bagi anak-anak, khususnya yang masih usia muda 5 tahun ke bawah, puasa bisa jadi bukan kegiatan menyenangkan. Mereka tidak leluasa makan dan minum, serta harus bangun sahur. Nah, tugas kita, Bunda, untuk memberikan informasi bahwa puasa adalah kegiatan menyenangkan yang penuh berkah.

Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., menyarankan untuk membangun komunikasi yang baik, sehingga anak mendapatkan informasi yang memadai tentang puasa. Bunda bisa mengajak si kecil mengobrol dan memperlihatkan cara berpuasa.

Cerita puasa dapat dimulai dengan sering-sering menyebut kata “puasa” sebelum bulan Ramadan tiba. Selanjutnya, berlanjut dengan menjelaskan apa saja yang dilakukan dan berbagai aturan saat puasa.

“Bunda bisa menjelaskan saat makan, misalnya dengan menyebutkan, ‘Bulan puasa nanti, siang-siang bunda nggak makan dan minum karena puasa.”. Ceritakan juga kegiatan selama berpuasa yang bisa menyenangkan si kecil, seperti berbuka puasa bersama dengan sajian khas yang menarik dan menggugah selera,” saran perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Hal itu disampaikan Nina dalam kuliah What’s App bertajuk “Sudahkah si Kecil Siap Belajar Puasa?” yang digelar oleh SGM, Jumat (9/4/2021).

Si Kecil juga bisa diajak menghitung mundur tanggal di kalender sampai ke bulan Ramadan. Kita bisa menunjukkan hari pertama puasa, hari-hari yang akan dijalani untuk berpuasa, hingga tiba saat Idul Fitri.

2. Santai, Tanpa Paksaan

Cara menyenangkan mengajari anak puasa/ Foto: Canva

Saat melihat anak lain seusia si kecil sudah bisa puasa penuh sampai maghrib, jangan terintimidasi ya, Bunda. Tetap santai saja. Kita harus selalu ingat bahwa anak yang belum baligh belum memiliki kewajiban berpuasa.

Tujuan anak usia dini diajari berpuasa adalah sebagai ajang latihan. Kita bisa saja memotivasi anak untuk semangat berpuasa, tetapi jangan sampai memaksakan dirinya untuk berpuasa penuh.

“Saat mencoba membuat si kecil berpuasa, perlu diingat bahwa si kecil perlu tetap sehat baik secara fisik maupun secara psikis. Sehat secara fisik artinya si kecil tidak sampai mengalami dehidrasi bahkan pingsan saat berpuasa. Sehat secara psikis artinya si kecil bertambah pengetahuan dan keterampilannya berpuasa serta tetap senang menjalani puasa,” papar Nina.

Jadi nggak masalah ya, Bunda, saat di awal-awal puasa anak mengeluh lapar dan haus di pagi hari. Jangan tergoda untuk mengatakan, “Kan tadi sudah sahur, jam segini kok sudah lapar dan haus. Bunda saja masih kuat nih puasanya.” Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memvalidasi emosi dan perasaan anak. Ini penting agar anak merasa dipahami oleh orang tuanya.

Santai saja ya, Bunda, si kecil boleh dipersilakan berbuka. Setelah itu, Bunda bisa mengingatkannya untuk mencoba kembali berpuasa esok harinya. Boleh juga menambah durasi puasanya. Jika hari pertama puasa, si kecil makan dan minum di pukul 8 pagi, maka esok harinya “berbuka” di jam 9 pagi, begitu seterusnya.

3. Bikin Kegiatan Menyenangkan

Kegiatan menyenangkan saat puasa bisa bikin anak makin semangat/ Foto: Canva

Saat puasa, anak bisa saja mengeluh lemas sehingga enggan beraktivitas. Wajar sekali. Hal yang sama sering pula kita rasakan, padahal kita adalah orang dewasa. Saat anak menyampaikan apa yang dirasakan, yuk divalidasi emosinya. Ini penting agar anak merasa dipahami.

Nah, agar anak lebih bersemangat menjalani puasa, Bunda bisa merancang kegiatan menyenangkan yang jarang dilakukan di bulan lainnya. Nina memberikan sejumlah ide kegiatan menyenangkan untuk anak saat Ramadan seperti membuat kue kering untuk Lebaran.

Bisa juga membuat bunting flag bertuliskan ucapan selamat Ramadan, lalu digunakan untuk menghias ruang tamu. Bunda juga bisa menyiapkan hiasan atau ornamen khas Ramadan seperti ketupat dan kubah masjid, lalu biarkan si kecil menempel di tempat yang ia sukai.

Kegiatan menyenangkan lainnya adalah membuat amplop angpao dari kertas origami. Si kecil bisa diajak menghias amplop tersebut menggunakan stiker, dan biarkan dia berimajinasi.

4. Makanan Favorit di Waktu Buka dan Sahur

Makanan favorit saat buka dan sahur bisa bikin anak semangat puasa/ Foto: Canva

Salah satu penyemangat anak untuk berpuasa adalah dengan menyajikan makanan atau minuman favoritnya untuk sajian buka dan sahur. Misalnya saja es buah segar yang berisi aneka buah kesukaan si kecil.

Bunda bisa bertanya kepada si kecil makanan atau minuman apa yang diinginkan untuk berbuka puasa dan sahur. Selanjutnya, mereka bisa diajak untuk membuatnya bersama.

5. Memberi Hadiah Sederhana

Cara menyenangkan mengajari anak puasa/ Foto: Canva

Saat si kecil berhasil berpuasa, meskipun tidak sampai maghrib, perlu mendaoat apresiasi nih. Kita bisa memberikan kalimat pujian dan kebanggaan padanya karena si kecil sudah berusaha belajar puasa.

Memberi hadiah sederhana untuk menyemangati si kecil juga boleh-boleh saja, Bunda. Hadiah sederhana bisa berupa makanan atau minuman kesukaan, waktu membaca buku cerita lebih lama, atau hal-hal lain yang si kecil sukai.

Nina menambahkan cara lain untuk memberi hadiah adalah dengan membuat ‘token system’. Ini merupakan sistem pengumpulan stiker yang nantinya bisa ‘ditukarkan dengan hadiah lebih besar’. Wah terdengar seru ya!

“Bunda bisa menyiapkan stiker-stiker kecil dengan gambar yang si kecil sukai, dan menyiapkan buku catatan kecil atau kalender. Setiap kali si kecil berhasil berpuasa, Bunda bisa mengajak si Kecil untuk memilih stiker dan menempelkan di buku catatan kecil atau kalender itu,” jelas Nina.

Di awal kegiatan, dipastikan dulu nih kapan kumpulan stiker bisa ditukar. Misalnya saat stiker sudah mencapai 10 atau 20, bisa ditukar hadiah menarik. Semakin seru hadiahnya, maka butuh stiker yang lebih banyak.

Bagaimana jika hadiahnya berupa screen time atau menonton film lebih banyak? Kata Nina, perlu dicermati batas waktu screen time untuk anak berdasarkan usia. Bila anak berumur lima tahun, maka dalam satu hari, waktu menontonnya maksimal satu jam.

“Waktu satu jam ini pun tidak langsung dihabiskan selama satu jam, namun dipecah menjadi 4×15 menit atau 3×20 menit atau 2×30 menit.” sambung Nina.

Dengan begitu, hadiah screen time untuk anak harus tetap disesuaikan dengan batasan tersebut. Contohnya bila selama ini si anak 5 tahun hanya punya waktu 30 menit untuk screen time, bisa mendapat hadiah tambahan waktu sampai maksimal satu jam.

“Tapi kalau selama ini sudah satu jam, bahkan sudah lebih, maka seharusnya dikurangi dan bukan ditambahkan,” saran Nina.

Nah, itu dia beberapa tips mengajarkan puasa pada si kecil dengan cara menyenangkan. Semoga bisa memotivasi Bunda untuk terus mendampingi si kecil secara maksimal.

]]>

via sayangianak