Sumber: pexels

Website – Kemampuan perusahaan menghasilkan laba sangatlah penting untuk dicermati. Namun, ada hal yang tak kalah penting untuk diamati yakni, bagaimana perusahaan menggunakan laba tersebut? Apakah membagikannya sebagai dividen atau menempatkannya sebagai saldo laba ditahan atau retained earnings?

Pemegang saham, tidak bisa tidak, merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari sebuah perusahaan. Oleh karena itu, kepentingan pemegang saham harus menjadi salah satu poin utama yang diperhatikan sebuah perusahaan, termasuk dengan mendulang sebesar-besarnya laba yang menguntungkan pemegang saham.

Dikutip dari Investopedia.com, keuntungan atau laba yang dicatatkan perusahaan memang merupakan hal yang sangat penting di mata investor. Bagi sebagian besar investor, hal ini akan sangat memengaruhi pandangan mereka terhadap sebuah saham perusahaan karena mereka amat menitikberatkan penilaian pada seberapa besar dividen yang akan didapatkan.

Perusahaan yang tidak menghasilkan dividen mungkin tampak tidak menarik. Tetapi bagi investor yang berpikir cerdas, perusahaan seperti ini tetap layak untuk dipertimbangkan. Pasalnya, meskipun tidak membagikan laba sebagai dividen, penggunaannya sebagai laba ditahan untuk menunjang kemampuan profitabilitas perusahaan tetap memiliki nilai tersendiri di mata investor.

Pengertian Retained Earnings

Dalam pembukuan laporan keuangan, retained earnings akan masuk ke dalam pos saldo laba. Pos ini merupakan bagian dari ekuitas atau permodalan perusahaan yang merupakan bagian dari pasiva. Perlu diingat juga bahwa ekuitas ini akan dikelola menjadi aset dalam pos aktiva perusahaan.

Dalam istilah yang lebih umum laba ditahan digunakan perusahaan untuk menunjang operasi bisnisnya, atau untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan dengan ekspansi bisnis lebih jauh. Jadi, pendeknya, tidak berarti bahwa perusahaan yang tidak membagikan dividen adalah perusahaan yang buruk.

Bagi sebagian perusahaan, khususnya di era pandemi COVID-19 seperti saat ini, pilihan untuk menahan laba menjadi ekuitas adalah pilihan yang lumrah. Pasalnya, di tengah penurunan performa, laba tersebut akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang untuk terus menunjang bisnis perusahaan yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan kepada para pemegang saham.

Dikutip dari Wartaekonomi.co.id, emiten blue chips yang biasa dikenal royal bagi dividen seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) sekalipun harus puasa dividen pada 2020 akibat terimbas COVID-19. Alhasil, dua emiten ini juga harus terlempar dari indeks High Dividen 20.

Namun, dalam kondisi bebas pandemi sekalipun tetap banyak, banyak perusahaan di bidang manufaktur misalnya yang memilih tidak membagikan laba kepada pemegang saham. Alasannya adalah untuk menunjang ekspansi mereka dengan mendirikan pabrik, menambah barang modal, hingga meningkatkan kinerja operasional.

Oleh karena itu, sebagai investor, penting bagi kamu untuk benar-benar mempelajari seperti apa laba ditahan itu akan digunakan oleh perusahaan. Sebagai investor, kamu perlu memperhitungkan seberapa besar sebenarnya modal yang diperlukan untuk menunjang rencana kegiatan bisnis sebuah perusahaan dan seberapa mampu manajemen perusahan itu menghasilkan keuntungan bagi kamu dari retained earnings tersebut.

Retained Earnings untuk Menunjang Pertumbuhan

Untuk merealisasikan peluang pertumbuhannya, sebuah perusahaan harus mampu menginvestasikan retained earnings-nya pada investasi yang tepat untuk menghasilkan lebih banyak laba. Mudahnya, perusahaan yang baik harus memiliki kemampuan seperti investor yang baik untuk terus memaksimalkan keuntungan yang didapatkan demi tujuan jangka panjang.

Dalam konteks investor misalnya, kamu menginvestasikan Rp10.000 setiap tahun, maka dalam jangka waktu 10 tahun, nilai investasi Anda akan menjadi Rp100.000. Tetapi, jika jumlah investasi yang sama ditempatkan pada instrumen saham dengan tingkat kenaikan gabungan sebesar 10% per tahun, maka investasinya akan menjadi Rp159.000 dalam jangka waktu 10 tahun.

Dalam konteks perusahaan, retained earnings juga dapat memberi dampak positif dalam konteks meningkatkan valuasi perusahaan. Hal ini, tentunya, pada akhirnya akan meningkatkan value atau nilai dari yang diinvestasikan oleh kamu melalui saham perusahaan tersebut.

Dengan menghasilkan kinerja yang lebih baik menggunakan laba ditahan, maka kenaikan harga saham perusahaan tersebut akan turut memberi dampak positif bagi pemegang sahamnya. Sayangnya, tidak semua perusahaan memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Kebanyakan dari perusahaan yang menahan laba melakukannya sebatas untuk menjalankan strategi bertahan semata.

Menilai Keuntungan dari Retained Earnings

Kamu tetap bisa menilai secara objektif mengenai bagaimana perusahaan menggunakan laba ditahan tersebut dengan melihat data kinerja secara historis. Caranya adalah dengan membandingkan total laba ditahan per saham sebuah perusahaan dalam jangka waktu tertentu, dan membandingkannya dengan seberapa besar perubahan pada laba per saham dalam periode yang sama.

Sebagai contoh, perusahaan dengan kode saham ABCD mencatatkan laba sebesar Rp0,25 per saham pada 2011, lalu meningkat menjadi Rp1,35 per saham pada 2021. Sepanjang 2011 hingga 2021, perusahaan ini mencatatkan total laba sebesar Rp7,5 per saham.

Dari laba per saham sebesar Rp7,5 Rp itu, perusahaan telah membagikan Rp2 per saham sebagai dividen pada periode tersebut. Dengan demikian, total laba ditahan yang dimiliki perusahaan sepanjang periode itu adalah sebesar Rp5,5 per saham.

Dengan posisi laba per saham pada 2021 adalah sebesar Rp1,35 per saham, maka dari Rp5,5 per saham laba ditahan, perusahaan telah menghasilkan laba tambahan sebesar Rp1,1 per saham untuk 2021. Dengan kata lain perusahaan ABCD berhasil mencatatkan keuntungan sebesar 20% dari laba ditahan sebesar Rp5,5 per saham pada 2021 (Rp1,1 dibagi 5,5).

Cara lain yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja laba ditahan atau retained earnings adalah dengan membandingkan nilai pasar tambahan yang didapatkan dari laba ditahan.

Contohnya, saham perusahaan ABCD yang kita bahas tadi dihargai Rp100 per saham pada 2011 dan pada 2021 harganya telah naik menjadi Rp200 per saham. Maka dari Rp5,5 laba ditahan per saham, menghasilkan nilai tambah sebesar Rp100 per saham dalam bentuk kenaikan nilai pasar. Dengan kata lain, untuk setiap Rp1 rupiah laba per saham yang ditahan perusahaan, tercipta nilai tambah di pasar sebesar Rp18,2 per saham.

Namun, dari berbagai metode valuasi ini, cara yang paling mudah untuk benar-benar mengevaluasi retained earnings adalah dengan melihat bottom line perusahaan. Kamu harus melihat apakah perusahaan tersebut dapat Anda percaya untuk terus menghasilkan pertumbuhanan dengan memanfaatkan laba ditahan ini.

Investasi tentunya memerlukan kejelian dan keseriusan dalam menelaah sebuah perusahaan sampai ke level mikroskopik dengan jeli. Dan hal ini, tentu saja hanya akan didapatkan dengan pengalaman panjang di dunia investasi.

Oleh karena itu, jangan terus menunda rencana investasi Anda dan segeralah bergabung menjadi investor dengan investasi melalui aplikasi Ajaib! Aplikasi yang telah mendapatkan izin dan berada dalam pengawasan OJK ini telah menjadi salah satu platform investasi saham dan reksadana terkemuka di Indonesia. Ayo mulai segera perjalanan investasi Anda!

via ajaib