Sumber: Chitose Indonesia

Website – Selama pandemi perusahaan-perusahaan produsen furnitur pada umumnya mengalami kemunduran yang signifikan. Maklum saja karena permintaan furnitur utamanya datang dari sektor properti sedangkan di masa pandemi sektor properti melambat. Masyarakat juga cenderung mengurangi belanja dan akibatnya sektor ritel terkoreksi sebesar 25%. 

CINT sebagai emiten produsen furnitur seperti kursi lipat dan tempat tidur juga mengalami penurunan pendapatan selama pandemi. Penurunan penjualan yang dialami CINT adalah sebesar 14,35% saja, masih lebih baik dari koreksi di sektor ritel secara umum. 

Strategi emiten CINT selama pandemi menolong emiten bertahan di tengah penurunan permintaan dari sektor properti. Bahkan emiten masih bisa membagikan dividen sebesar Rp1 per lembar saham di tahun 2020.

Kemampuan bertahan di tengah krisis dan konsistensi dalam membagikan dividen membuat CINT menarik sebagai investasi jangka panjang. Kini saatnya kita masuk ke pembahasan lebih dalam mengenai kinerja CINT yang lebih terperinci. 

Profil Perusahaan

PT Chitose Internasional Tbk (CINT) alias Chitose adalah perusahaan furnitur dengan merek Chitose, Uchida dan Yamato. Produknya termasuk kursi lipat, kursi kantor dan kursi pertemuan, kursi dan meja perjamuan, meja sekolah, rak penyimpanan, serta tempat tidur rumah sakit. 

Chitose didirikan pada tanggal 15 Juni 1978 dan termasuk ke dalam sektor Industri Barang Konsumsi kategori Peralatan Rumah Tangga. Chitose memutuskan untuk melantai di papan pengembangan bursa pada tanggal 27 Juni 2014 dengan kode saham CINT. 

Perusahaan mendistribusikan dan manufaktur produknya yang beroperasi di pabriknya di Cimahi, Indonesia. Anak perusahaannya termasuk PT Sejahtera Wahana Gemilang, PT Sinar Sejahtera Mandiri, PT Trijati Primula, PT Sejahtera Bali Furindo dan PT Delta Furindotama.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 1.000.000.000 lembar di harga Rp194 per lembar, kapitalisasi pasarnya adalah sebesar Rp194 Miliar. Adapun pemegang saham dengan kepemilikan signifikan diantaranya PT Tritirta Inti Mandiri 70,217%, Niven Holding Limited 6,0195%, sedangkan yang beredar di masyarakat adalah 22,1885%.

Ulasan Kinerja

Aktivitas bisnis di tahun 2020 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Di Kuartal 1-2020 kinerja masih cukup baik dengan rata-rata produksi perseroan mencapai 90% dari modal kerja.

Namun memasuki Kuartal 2 dan 3 secara umum sektor ritel mengalami penurunan permintaan sebanyak 25% disebabkan pembatasan sosial dan protokol kesehatan terkait COVID-19. 

Perseroan bertahan dengan melakukan efisiensi di semua bidang dan mengubah strategi. Memasuki Kuartal 4-2020 hingga Kuartal 2-2021 emiten melakukan strategi Recovery & Adaptation berupa:

  • Fokus pada produk-produk Office & Education Furniture untuk memenuhi permintaan produk penunjang Work From Home dan School From Home selama isolasi. Hasilnya memuaskan, permintaan naik 25% dari segmen education & office. 
  • Selain memproduksi sendiri, emiten juga berkolaborasi dengan Samator Home Care dan kantor-kantor untuk memenuhi permintaan isolasi mandiri. 
  • Fokus produk penunjang New Normal: Origami Bed yang merupakan ranjang dari kardus dengan teknologi adaptasi dari Jepang, kasur dapat dicuci dan kardusnya bisa dibakar dan diganti dengan kardus baru. Divider yang merupakan pembatas antar pekerja. 
  • Kegiatan ekspor juga dilakukan dengan sangat baik, emiten membuat kursi piano bekerja sama dengan Roland dan Kawai untuk diekspor ke Jepang dan Malaysia sebanyak 7500 pcs.  
  • Push Market, marketing secara online presentasi ke instansi-instansi, perguruan tinggi, kerja sama marketing dan customer gathering. 

Hasilnya sebagai berikut:

2Q21 2Q20 Change
Pendapatan 116.719.633.119 136.271.789.743 -14,35%
Laba Kotor 34.950.636.847 40.425.582.263 -13,54%
EBIT 1.610.845.424 2.808.500.022 -42,64%
Laba Bersih 293.085.971 1.032.316.098 -71,61%

Hingga Kuartal 2-2021, pendapatan terkoreksi 14,35% YoY menjadi Rp116,7 miliar saja dibandingkan dengan Kuartal 2-2020. Kegiatan ekspor stabil 100% berkat kerja sama dengan Roland dan Kawai dalam memproduksi kursi piano.

Sementara itu Segmen Business Development naik 15%. Namun secara umum kegiatan marketing ke instansi-instansi belum menghasilkan sebesar tahun-tahun sebelumnya. 

Turunnya pendapatan selanjutnya diikuti dengan turunnya laba kotor dengan persentase penurunan dengan nilai hampir sama besar, yakni -13,54%. Selanjutnya, EBIT (Laba Sebelum Pajak) turun 42,64% menjadi hanya Rp1,6 miliar saja, dibandingkan sebelumnya di Kuartal 2-2020 sebesar Rp2,8 miliar.

EBIT turun disebabkan oleh beban-beban yang terdiri dari beban penjualan, beban administrasi dan beban usaha relatif besarnya masih relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Kemudian setelah dikurangi pajak dan lainnya laba bersih CINT per Kuartal 2-2021 adalah sebesar Rp293 juta saja atau terkoreksi 71,61%, di mana sebelumnya Rp1,03 miliar di Kuartal 2-2020. Meski laba terkoreksi hingga 71% namun dari sisi neraca tidak terjadi banyak perubahan. 

Riwayat Kinerja

Kinerja perlu ditelusuri riwayatnya agar bisa diketahui tren kualitasnya. Berikut riwayat penjualan dan laba-rugi emiten furnitur dari Cimahi ini:

Pendapatan Laba Kotor EBIT Laba Bersih
2017 373.955.852.243 125.203.516.697 38.318.872.398 29.648.261.092
2018 370.390.736.433 113.443.034.555 22.090.078.956 13.554.152.161
2019 407.452.029.013 115.259.995.224 13.896.350.693 7.221.065.916
2020 330.675.687.019 96.914.575.368 6.564.977.193 249.076.655
CAGR -4,02% -8,18% -44,46% -79,67%

Secara umum kegiatan penjualan berlangsung cukup baik terutama di tahun 2019 di mana emiten sempat mengalami penjualan sebesar Rp407,45 miliar. Di tahun 2020 penjualan terkoreksi 14,35% YoY menjadi hanya Rp330,67 miliar. Hal ini dapat dimaklumi karena emiten tak bisa beroperasi penuh disebabkan pembatasan sosial selama pandemi COVID-19. 

Secara umum dalam empat tahun terakhir pendapatan terkoreksi 4,02% setiap tahunnya. Sementara itu laba kotor rata-rata turun sebesar 8,18%. Penurunan laba kotor yang lebih besar dari penurunan pendapatan menandakan bahwa terdapat kenaikan harga bahan baku (Beban Pokok Pendapatan) sebesar selisih persentasenya.

Hal itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kenaikan beban-beban lainnya seperti beban keuangan dan beban administrasi. Adapun EBIT (Laba sebelum pajak) emiten turun rata-rata sebesar 44,46% setiap tahunnya sejak 2017. 

Bisa kamu perhatikan bahwa EBIT terus turun setiap tahunnya dari Rp38,3 miliar di 2017 menjadi Rp22 miliar di 2018. EBIT terus turun menjadi Rp 13,89 miliar di 2019 dan akhirnya di 2020 menjadi hanya Rp6,56 miliar saja di 2020. Bandingkan dengan pendapatan yang mengalami penurunan sedikit saja yakni 4,02% per tahun. 

Di bottom line, setelah dikurangi pajak dan lainnya, laba bersih emiten per 2020 adalah sebesar Rp249 juta saja. Emiten di tahun 2020 sempat membagikan dividen tunai sebesar Rp1 per lembar saham atau setara dengan Rp1 miliar. Hal ini patut diapresiasi karena emiten masih sempat memikirkan investor sekalipun sedang mengalami masa-masa sulit. 

Selanjutnya mengenai laba bersih, semula di 2017 laba bersih emiten mencapai Rp29 miliar, terus turun setiap tahunnya laba bersih emiten terkoreksi sebesar rata-rata 79,67% hingga hanya menghasilkan Rp249 juta saja di 2020. Jika tren ini terus berlanjut maka di akhir tahun 2021 emiten diprediksi akan mengalami rugi bersih. 

Penelusuran dilanjutkan dan ditemukan bahwa beban-beban terutama di bawah ini adalah penyebabnya:

Beban Keuangan Beban Usaha 
2017 2.076.848.901 86.884.644.299
2018 3.331.144.467 91.352.955.599
2019 4.830.777.929 101.363.644.531
2020 6.860.466.956 90.349.598.175
CAGR 48,93% 1,31%

Jadi, setiap tahunnya secara umum beban usaha emiten meningkat sebesar 1,31%. Beban usaha terdiri dari beban penjualan seperti biaya promosi dan marketing, gaji karyawan, biaya sewa, tagihan listrik dan air, dan lain sebagainya. 

Peningkatan beban utamanya terjadi pada beban keuangan emiten, yang merupakan bunga pinjaman bank dan pinjaman berbunga lainnya, telah meningkat sebesar 48,93% per tahun. Berikut informasi mengenai neraca emiten. 

Aset Liabilitas Ekuitas
2017 476.577.841.605 94.304.081.659 382.273.759.946
2018 491.382.035.136 102.703.457.308 388.678.577.828
2019 521.493.784.876 131.822.380.207 389.671.404.669
2020 498.020.612.974 112.663.245.901 385.357.367.073
CAGR 1,48% 6,11% 0,27%

Secara umum dari tahun ke tahun total aset mengalami kenaikan, namun terkoreksi kecil di tahun 2020 menjadi hanya Rp498 miliar. Liabilitas emiten mengalami kenaikan sebesar 6,11% per tahun. Yang parah adalah sebagian besar utang terdiri dari utang jangka pendek, alias mesti dibayarkan dalam waktu kurang dari satu tahun. 

Di tahun 2020 saja dari total liabilitas Rp112,6 miliar, liabilitas lancar alias jangka pendeknya adalah sebesar Rp94,58 miliar. Di tahun-tahun sebelumnya juga demikian, di tahun 2019 total liabilitas adalah Rp131,8 miliar dan Rp105,4 miliar dari total liabilitas mesti dibayarkan segera kurang dari setahun. Perhitungan kesehatan keuangan emiten bisa dicapai dengan rasio-rasio di bawah ini: 

DER Current Ratio ICR
2017 24,67% 319,00% 18,45
2018 26,42% 270,83% 6,63
2019 33,83% 237,71% 2,88
2020 29,24% 249,39% 0,96
2Q20 32,34% 251,05% 1,00
2Q21 33,38% 229,60% 0,63

Rasio utang per modal kerja (DER) emiten berada di kisaran 25-33% setiap tahunnya, ini adalah angka yang sehat yang menandakan bahwa ekuitas emiten sangat cukup untuk menutup total utang emiten jika terjadi sesuatu. 

Sedangkan rasio lancar emiten yang dihitung dengan membagi aset lancar dengan utang lancarnya berada di kisaran lebih dari 200% setiap tahunnya. Aset lancar terdiri dari kas dan setara kas, serta aset-aset lain yang dapat dilikuidasi kurang dari setahun. Besaran aset lancar yang lebih besar setidaknya dua kali lipat dari liabilitas lancar memberikan gambaran bahwa emiten sangat sehat dilihat dari kemampuannya menutup liabilitas. 

Akan tetapi karena liabilitas yang diambil emiten berkualitas rendah, alias berbunga, maka perhitungan ICR (Interest Coverage Ratio) dilakukan. ICR adalah perhitungan pemenuhan bunga pinjaman oleh laba sebelum pajak (EBIT). Semakin besar ICR semakin baik, namun karena laba bersih terus terkoreksi maka ICR emiten terus menurun hingga di bawah 1. 

ICR di bawah 1 menandakan bahwa kini beban keuangan emiten sudah sedemikian besar. Namun jumlah beban keuangan yang senilai Rp2,8 miliar tentu dapat dengan mudah dibayar dengan mengurangi kas dan setara kas semiten. Adapun kas dan setara kas emiten adalah senilai Rp27,26 miliar. 

Berikut informasi mengenai marjin laba emiten:

GPM OPM NPM
2017 33,48% 10,25% 7,93%
2018 30,63% 5,96% 3,66%
2019 28,29% 3,41% 1,77%
2020 29,31% 1,99% 0,08%
2Q20 29,67% 2,06% 0,76%
2Q21 29,94% 1,38% 0,25%

Dari tabel di atas diketahui bahwa GPM (marjin laba kotor) emiten adalah sebesar 28-30an persen setipa tahunnya. Artinya beban pokok pendapatan alias biaya bahan baku pembuatan produk Chitose adalah sebesar 70-an persen dari pendapatan yang diperoleh. 

Dari GPM sebesar itu, OPM (marjin laba usaha) emiten hanya satu digit saja dan nilainya terus turun. Di akhir tahun 2020 nilainya hanya 1,99%. Sama halnya dengan marjin laba bersih emiten yang terus turun hingga hanya 0,08% saja. 

Jika tren penurunan ini terus berlangsung maka bisa diprediksi bahwa di tahun berikutnya yakni di 2022 emiten akan mengalami kerugian. Mungkin tidak terlihat secara top line karena kegiatan penjualan emiten baik-baik saja selama ini, namun efisiensi beban emiten perlu dipertanyakan karena sejauh ini trennya memburuk.  

Kesimpulan 

Sebagaimana yang dipaparkan, emiten CINT cukup baik dalam masalah perolehan pendapatan. Kegiatan marketing berjalan baik, manajemen juga gesit menyikapi perubahan permintaan selama pandemi. Kemampuan bertahan selama krisis adalah ciri dari perusahaan bagus. Secara penjualan emiten cukup baik meski sempat terkoreksi kecil selama pandemi. 

Akan tetapi emiten mengalami masalah secara internal dalam hal efisiensi beban. EBIT (Laba Sebelum Pajak) mengalami penurunan 44,46% setiap tahunnya. Kemudian setelah semuanya, laba bersih mengalami penurunan 79,67% per tahun. 

Di akhir tahun 2020 ICR emiten berada di bawah 1, hal ini menandakan bahwa EBIT emiten bahkan di bawah besar beban keuangan alias bunga pinjaman. Namun bisa ditutup dengan mengambil sebagian dari kas dan setara kas emiten yang sebesar Rp27,26 miliar itu.  

Konsistensi dalam pertumbuhan yang negatif secara bottom line menyebabkan emiten tidak cocok untuk investasi jangka panjang. Jika tren pertumbuhan negatif ini terus berlangsung maka mulai tahun 2021 ke depan emiten akan mengalami rugi bersih meski penjualan baik-baik saja atau bahkan meningkat. 

Pertumbuhan EBIT dan laba bersih yang terus-menerus negatif, alias terus menurun, membuat prospek emiten gelap. Disebut gelap karena utang dan bunganya mesti dibayar sedangkan laba emiten terus menurun. Maka tak mungkin mengandalkan operasional untuk memenuhi liabilitasnya.

Jika kemudian kas dan setara kas emiten habis maka emiten harus menjual sebagian aset untuk melunasi utang-utangnya. Jika utang-utangnya tak terbayarkan maka emiten bisa dinyatakan pailit suatu saat nanti.

Mesti ada perubahan dari internal emiten untuk hal ini selagi belum terlambat, selagi masih laba. Jika secara internal emiten sudah mulai dapat melakukan efisiensi beban, maka CINT akan menjadi bahan investasi yang sangat baik mengingat emiten sangat perhatian kepada investornya dalam hal membagikan dividen meski sedang mengalami masa sulit. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

via ajaib