Memulai milestone baru lewat IPO, IDEA bergerak cepat mengembangkan bisnis. Pada 2025, perusahaan menargetkan bisa memiliki 10.000 ribu siswa online, dan 10.000 siswa dari kelas hybrid learning. “Itu cara kita membuat investor happy.” 

***

Investasi, JAKARTA– Nama Eko Desriyanto seketika membanjiri halaman media online dan cetak Tanah Air. Menggawangi sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang perhotelan,  Direktur Utama PT Idea Indonesia Akademi (IDX: IDEA) mencuri perhatian lewat rencana IDEA melantai di Bursa Efek Indonesia. 

Jatuh bangun mengembangkan bisnis pendidikan dan pelatihan membuat Eko punya banyak amunisi melangkah lebih jauh. Proses IPO yang tengah dihelat IDEA, menjadi pemantik untuk berkembang lebih besar. Kepada Investasi, Eko menuturkan sejumlah rencana yang siap direalisasikan sebagai pemula milestone baru. 

Bagaimana rencana yang telah disiapkan dan apa saja cerita di balik rencana IPO IDEA? Simak bincang santai Ira Guslina dari Investasi dengan Eko Desriyanto yang berlangsung secara virtual, Senin, 23 Agustus 2021. 

Bagaimana awalnya Anda pertama kali bisa terjun ke dunia perhotelan? 

Awalnya itu the power of kepepet. Saya lulusan fakultas syariah, jurusan  hukum perdata isllam, mestinya jadi hakim atau panitera di pengadilan agama. Tapi memang waktu itu sudah mencoba lamaran itu tidak jebol. Saya tidak berhasil meyakinkan recruiter. Akhirnya saya coba kesempatan lain. Saat kuliah saya pernah dapat ground dari pemerintah untuk research management on islamic studies dan sempat di United Kingdom. Di sana sempat part time di hotel.

Setelah pulang dari UK, kepikiran kok ga dapat-dapat kerja. Saya jadi ingat pernah punya pengalaman jadi door greater, tukang buka pintu di hotel. Kemudian saya coba dengan pengalaman itu dan siapa tahu opportunity ada di sini. Dan benar pas diberitahu punya pengalaman di hotel A, hotel bintang dan bisa bahasa inggris saya malah dapat kerja. Ternyata kemampuan Bahasa Inggris itu sangat penting di industri hospitality. Di jogja saat itu lagi banyak turis. Itu awalnya terjun kerja di perhotelan. 

Setelah bekerja di hotel, apa yang mendorong Anda mendirikan lembaga pelatihan dan pendidikan perhotelan sendiri? 

Saya kenal dengan industri hotel kurang lebih tahun 2006. Kebetulan sempat terjun di industri perhotelan meski tidak lama hanya 8 bulan. Kemudian saya melihat ada opportunity yang besar sekali. Anak-anak hotel zaman saya dulu itu punya tiga penghasilan, pertama dari gaji pokok, kedua service cash dan ketiga tips tamu. Banyak yang kerja di hotel waktu itu not well educated. Saya saat itu merasa over qualified. 

Rata-rata pekerja hotel tamatan SMP, SMA, bahkan yang senior-senior itu lulusan SD. Sedangkan saya lulusan sarjana. Tapi kemudian mereka mendapat pelatihan yang sangat baik, follow the standar akhirnya mereka jadi karyawan yang baik dari learning from the experience. Jadi dari sisi edukasi saya melihat hotel menawarkan opportunity yang besar bagi mereka yang tidak sanggup kuliah, atau ga mau melanjutkan pendidikan ke level yang tinggi diploma, atau S1. Jadi gajinya tinggi tetapi pendidikan ga perlu tinggi, ini kan menarik. 

Saya melihat anak-anak hotel yang kemudian punya triple income tadi semacam mengalami syok, financial syok. Mereka yang tidak punya uang tadinya tiba-tiba punya gaji pokok, punya income, mereka itu tidak siap. Dulu itu nongkrong, clubing jadi hal biasa. Akibatnya di tengah bulan uang mereka habis. Jadi tidak ada financial management. Dari time manajemen tidak bagus. 

Saya juga melihat ada yang kurang dari segi personality dan religiusitas. Akhirnya saya menyadari industri hotel itu dulu tidak ada sentuhan personal dan religiosity. Itu yang membuat saya merasa susah mengubah orang lama. Saya keluar dari situ kemudian mendirikan lembaga pelatihan.

Apakah saat itu langsung mendirikan IDEA? 

Lembaga pendidikannya adalah bahasa inggris dan perhotelan. Di awal itu saya gandeng beberapa teman yang baru pulang dari kapal pesiar. Saya punya gedung, kemudian teman yang pulang dari kapal pesiar punya pengalaman dan modal. Kemudian digabung saya punya lembaga bahasa inggris.

Lalu kita buatlah lembaga bahasa inggris dan perhotelan. Itu di Jogja Dulu namanya bukan Idea, tapi Star Royal Internasional. Nah tapi masalahnya adalah dalam sebuah kerjasama kalau sama-sama amanah kan tuhan ada untuk penguatnya. Tapi kalau ada yang berbalik kan repot. Akhirnya wanprestasi. Tapi saya tetap bertanggung jawab pada 80-an siswa yang sudah mendaftar untuk mencarikan kerja sesuai janji di awal. 

Sebagai bentuk tanggung jawab saya keliling dari satu hotel ke hotel lain. Saja jadi punya koneksi dengan GM dan manajer perhotelan. Saya juga jadi realize bahwa demand untuk bisnis perhotelan itu sangat tinggi. Sebanyak 80 orang yang akhirnya jadi tanggungan saya selesai dalam 3 bulan.

Ini yang membuat saya yakin. Ya sudah saya lanjutkan saja perjuangan. Challenge and opportunity bagus. Akhirnya saya bukalah lembaga pelatihan sendiri namanya IDEA. 

Adakah pihak lain yang dilibatkan saat IDEA pertama berdiri?

Kebetulan sendiri. Saya coba presentasi pada beberapa investor. Waktu itu investor tidak ada yang mau karena beliau merasa itu high risk. Karena saya sendiri ngalamin, dan bisa menempatkan kerja anak-anak saya yakin ini bisa. Saya optimis jalan. Saya coba poles bahasa inggris siswa dan akhirnya teman-teman GM hotel minta lagi. Saya masukkan anak-anak dari IDEA dan pihak hotel minta lagi. Saya merasa ini opportunity nya ada. Itu awalnya kurang lebih sampai akhirnya saya memutuskan membuat IDEA Indonesia ini. Sendiri.

Meet the Leader: Membangun Trust Industri Hospitality
Pemegang saham IDEA

Berdasarkan prospektus, nama lain yang juga tercantum sebagai pemegang saham IDEA adalah Achmad Machlus Sadat. Boleh diceritakan bagaimana korelasinya dengan Anda? 

Dari awal saya dirikan sendiri dari buka sampai ada periode jeda waktu yang cukup kaya cerita. Dari 2009 saya buka sendiri, 2019 baru saya ketemu dengan Pak Achmad Sadat. Saat saya mendirikan sejak 2009-2019 itu kaya cerita. Pertama kali dengan 14 siswa, kemudian it works. IDEA terus berkembang sampai 2019 itu kita rata-rata siswanya 500 orang per tahun. 

Selama pengembangannya, saya merasa IDEA sudah berkembang cukup banyak. Pada 2016 itu kita sudah juara 2 nasional kemudian siswa paling banyak untuk siswa perhotelan swasta. Kita juga pernah juara 1 nasional. Akhirnya saya berpikir mau ke mana lagi karena sudah segede itu. 

Saya akhirnya mulai berorganisasi. Aya akhirnya mulai berorganisasi dan 2014 saya sudah di komunitas Tangan di Atas. Dalam sehari-hari saya mulai mencari teman, relasi dan mencari inspirasi. Saat 2019 saat menjadi Sekretaris Jenderal di DPP TDA, kami mengadakan yang namanya Meet The Investor. Salah satu calon investor yang kita undang  Achmad Sadat. Saya waktu itu duduk sebagai calon investor bersama Sadat. 

Saat itu, saya dan Achmad Sadat mau seleksi calon-calon yang mau saya invest. Dan alhamdulillah ga dapet. Akhirnya kami ngobrol sama Pak Sadat. Saya belum pernah ngobrol sebelumnya. Saya ngobrol karena waktu beliau memberi pengarahan saya tertidur. Dia memberi pengarahan untuk calon investor. Saya tertidur padahal saya Sekjen. Makanya saya pikir harus dibalas dengan sesuatu dan saya pikir saya harus ngobrol dekat. 

Saya melihat keahlian beliau ini sesuatu yang tidak pernah saya miliki sebelumnya. Achmad Sadat ini adalah financial analyst yang luar biasa. Selama ini saya tidak menemukan faktor seperti itu bahkan saya sendiri tidak mampu. Selama ini saya mencari duit bisa, saya secara operasional bisa tapi untuk mengembangkan IDEA sebagai korporasi saya belum punya ilmunya 

Apa yang berubah setelah ketemu?

Ketemulah dengan Mas sadat, kami ngobrol. Pertemuan kami sampai pertemuan kelima itu tidak pernah ngobrol IDEA, Beliau itu ngobrol visi, ngobrol soal manajemen dan ternyata itu adalah cara dia melakukan due diligence kepada saya. 

Beliau sampai datang ke rumah saya dan biasanya dia ga pernah nginap di member TDA. Nah waktu ke lampung beliau mau nginap di rumah saya, ya sudah saya biasa saja dan berjalan normal. Dan tidak ada pembicaraan mengenai IDEA. 

Baru setelah beberapa kali pertemuan dia nanya IDEA ini mau dikembangkan seperti apa., terus mas Eko mau nyari investor apa tidak, kalau mau nyari itu yang seperti apa? 

Nah ini kan repot menjawabnya. Terus beliau menyampaikan satu hal. Mas Eko mau jadi operator di bisnis ini sampai kapan? Beberapa pertanyaan itu menggugah saya. Ya iya ya, kita tidak bisa membuat bisnis kita itu memenjarakan kita. Kita tidak  harus selalu mikirin hal teknis, hal keseharian, dan itu harus ditingkatkan lagi, 

Ada satu hal yang menurut beliau akhirnya saya kembangkan dan menjadi berstandar korporasi. Harus layak untuk di IPO-kan. Jadi waktu ketemu itu sudah ada kelihatan bawa IDEA ini bisa IPO.  Bisnis jasa kan profitnya lebih tinggi. 

Saat memutuskan untuk bergerak menjadi perusahaan terbuka lewat IPO, hal apa yang selanjutnya dilakukan?

Caranya bagaimana, beliau kemudian mulai dari hal mendasar Kita restrukturisasi dulu. Kita buat PT Baru, kita buat kepemilikan saham yang pas. Setelah itu kita kembangkan asetnya, kemudian segala macam perbaikan kita lakukan. Kita lakukan dengan cepat dan aman selama ini as usual saja karena kita hanya lembaga kursus. 

Sari sisi cari visi memang itu maunya memang LKP jadi penyedia jasa pelatihan. Saya bilang saya siap untuk berubah. Maka dari itu dia melihat saya ekspertis di bidang pengembangan dan operasional dan dia ekspertise di bidang financial. Waktu itu ketemu di Januari 2019 kemudian 3 bulan kita ngobrol termasuk due diligence maka pada 23 April kita buat join venturenya. 

Setelah rencana IPO disepakati apakah langsung bikin anak usaha?

Waktu Mas Sadat masuk itu sebetulnya saya sudah punya perencanaan ingin membangun hotel mengembangkan asrama. Tapi semua masih dalam satu under LKP. Nah saya maunya sesederhana itu saja yang penting ada hotel untuk praktek, alatnya lengkap kemudian bisnisnya hotel restoran dan catering. Nah ini captive marketnya peserta pelatihan yang tinggal di kamar hotel, laundrynya kita yang sediakan, dan belajar di hotel kita. 

Nah beliau justru mendorong kita membuat PT  dan ada anak perusahaan di situ Sehingga anak perusahaan ini bukan menjadi beban bagi induknya tapi menjadi revenue buster bagi induknya.

Pada saat 2020 terjadi pandemi, bagaimana IDEA bertahan dengan industri pelatihan perhotelan?  

Memang kita sempat wajib tutup di awal April dan Mei. Tapi kalau di IDEA ini daftarnya tahun ini belajarnya tahun depan, saking antri siswa mendaftar. Kita punya 988 siswa yang siap belajar. Itu yang belum masuk karena sudah daftar di 2019. 

Jadi kita tidak terlalu terpengaruh pandemi. Akhirnya kita tetap coba buka pendidikan jarak jauh online, dan itu tidak menarik bagi siswa. Akhirnya kita sampaikan kita akan tatap muka, apalagi sudah zona kuning dan orange. Nah karena waktu itu untuk asrama sudah jadi 400-an kamar maka kemudian kita minta persetujuan orang tua dan dinas. Mereka izinkan baru kita lakukan tatap muka. Akhirnya  karena pandemi yang masuk 743 siswa. Jadi selama 2020 pandemi itu performance perusahaan naik. 

Bagaimana untuk 2021, apakah masih banyak siswa mendaftar? 

Ini baru kita merasakan pandemi. Tapi karena memang selama ini alumni sangat aktif merekomendasikan siswa baru, dari sekolah juga banyak rekomendasi ke IDEA. Kami tetap bisa sosialisasi secara online. Memang ada penurunan drastis tetapi  masih sangat bagus karena ada 400-500 siswa. Sebelumnya melihat situasi yang berkembang kita targetkan 2021 dapat 200 siswa saja ternyata malah jadi 400-500. 

Alumni IDEA kerja di mana? 

Alumni IDEA rata-rata di hotel, restoran, coffee shop, kapal pesiar, bandara, office building di Jakarta. Karena hospitality tidak hanya terkait hotel tetapi juga sangat capable dan kompatible dengan office building yang butuh customer service, barista. Jadi ketika industri hotel ini pada ambruk maka alumni kita orientasinya meluas ke office building, cafe dan restoran yang memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Yang memang masih beroperasi selama pandemi. 

IDX IDEA

Secara bisnis IDEA sudah bagus, kenapa harus IPO. Apa yang ingin dicapai?

IPO itu bukan ujung dari kerja tapi awal dari kerja besar kita. Itu sudah jadi prinsip kita di IDEA. Lalu apa sih sebetulnya  goals dari IPO. Kami punya revenue dan profit yang bagus  Kami melihat ada potensi dan opportunity yang begitu besar yang justru bisa dioptimalkan pencapaiannya dengan IPO. 

Pertama kalau kita menjadi perusahaan jasa penyedia vokasi yang sudah IPO tentu trust masyarakat akan meningkat. Karena kita otomatis kalau lulus bursa, lulus OJK sudah pasti kita good governance cooperation. Yang kedua, karena kami melihat potensi pasarnya masih besar dan tersebar di seluruh Indonesia  maka kami merasa sangat perlu untuk melakukan ekspansi di daerah di luar kota metro lampung seperti Jawa Barat, Sumsel, Pekanbaru Jawa Tengah. Selama ini kenapa kita merasa yakin karena selama ini di lampung saja mereka mau dari Balikpapan, Sulawesi, Pare-pare datang ke Lampung. 

Kalau sudah trustable begitu buka di daerah langsung banyak peminatnya. Memang profiling  kita di industri adalah trust masyarakat yang sudah sangat baik dan terbentuk. Begitu kita sampaikan ke hotel partner kita di Jawa Timur, Balikpapan Palembang mereka langsung menyambut. Karena selama ini kalau ngambil dari Lampung itu mereka rebutan baik untuk kerja maupun untuk magang. 

Kalau target IPO akan membangun gedung dan buka cabang. Bagaimana nanti realisasinya?

Kita sudah komit dengan OJK dan Bursa bahwa kita akan mulai berproses untuk pembangunan dan pembukaan cabang itu paling lama tiga bulan setelah dana emisi itu sampai kepada kita. Kita perlu besarkan kapasitas hotel karena di lampung kita menjadi paling besar. Hotel kita menjadi hotel populer. Karena itu demandnya sangat bagus. Kita kemarin bangun 113 kamar tapi yang 75 kamar itu untuk siswa sisanya untuk sementara kita punya meeting room itu 12. 

Saat ini, bersamaan dengan IDEA ada 6 calon emiten lain yang siap IPO. Bagaimana Anda melihat kans IDEA? 

Kami mempelajari prospektus emiten lain. Semakin kita mengintip semakin kita pede karena fundamental kita bagus. Dan kita lihat beberapa rekomendasi dari youtube, dari analis bebas itu mayoritas merekomendasikan IDEA dan itu membuat kita makin pede. 

Selain itu kita juga tengah membangun kerjasama dengan hotel existing. Banyak hotel sakit, nah kalau IDEA masuk mereka bisa langsung menyelesaikan banyak masalah seperti okupansi, dan masalah keuangan. 

Bagaimana Anda melihat adanya kekhawatiran investor pada emiten yang justru jadi perusahaan “gocapan” tak lama setelah IPO? 

Saya melihat perusahaan yang begitu karena IPO dijadikan tujuan untuk eksis dari usaha yang sudah dibangun. Kalau kami eman-eman, ini bisnis bagus, bisnis eman. Jadi kalau kita hanya sekadar dapat 30 miliar kemudian kita tinggalkan ya sayang banget. Karena dengan bekerja 3  tahun saja saya sudah dapat segitu banyak. 

Kita justru melihat oprotunitynya banyak di IDEA, Ini jadi pertanyaan OJK apa  komitmen Pak Eko untuk tidak meninggalkan IDEA dalam 3 tahun? Saya jawab jangankan tiga tahun kalau perusahaan ini ada 50 tahun saya akan berada di IDEA ini karena ini perusahaan yang dibangun sendiri. Walaupun secara yuridis PT IDEA Indonesia ini baru berdiri 2019 tetapi saya  kan sudah menjalankannya sejak 2009. 

Adakah rencana strategis dengan emiten atau perusahaan lain? 

Dalam proses IPO ini ada banyak yang kontak kami. Dari perusahaan terutama yang bergerak di bidang properti. Jadi ada yang bilang kami punya hotel, kami punya tanah, dan lain-lain. Ada yang suda siapkan super block dan ada lahan untuk hotel dan lembaga pelatihan yang nanti kalau sudah jadi kita diminta kelola. Itu yang saya katakan trust masyarakat naik. Saat ini salah satunya di Bogor, sudah penjajakan dan sudah jadi. 

Dari segi mutu dan pendidikan, bagaimana pengembangan IDEA ke depan?

Yang sedang kita lakukan mencakup 8 bidang, customer service, tata graha meliputi flowering gardening, ketiga food service, barista, pastry, hot kitchen, sales marketing and digital communication dan terakhir HR. Kalau dilihat dari kepentingan industry jadi kita one stop solution. 

IDEA juga sudah sign agreement dengan 20-an chain hotel dengan unit lebih dari 600 ada Archipelago yang punya 158 hotel, IHM, DHM, Gran Melia dan Horison. Jadi sekarang 20 chain hotel itu baik yang lokal dan yang global. Kita mengembangkan Hybrid Learning, jadi anak-anak belajar lewat online maka kita buat platform belajar online tetapi hybrid. 

Bagaimana Hybrid learning ini akan dilaksanakan?

Nanti siswa akan belajar secara online tetapi mereka boleh praktik di hotel terdekat dengan rumah mereka. Difasilitasi lewat IDEA Indonesia ke 600-an hotel lebih yang sudah kerjasama dengan IDEA. Dengan hybrid learning bisa belajar di rumah, praktek di hotel jadi selama insentif 6 bulan. 

Hybrid learning ini akan dilakukan di daerah yang tidak ada cabang dan ini hanya bergantung dengan hotel. Sudah direncanakan dan sudah mulai jalan. 

Jadi memang platform ini memfasilitasi siswa baru baik yang sudah terdaftar atau belum untuk belajar jarak jauh. Ini kick off di Desember. Dalam 1 bulan ini kita sempurnakan platformnya.  

Dari dua cara belajar yang sudah kita bangun baik online dan offline, sampai 2025 kita target masing-masing platform punya 10.000 ribu siswa. Dan itu cara kita membuat investor happy. ***

Riwayat Hidup Eko Desriyanto
Riwayat Hidup Eko Desriyanto

via tempias