Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa meskipun dosa itu sangat kecil. Karena sifat manusia pada dasarnya adalah tidak luput dari salah dan lupa.

Akan tetapi, sesungguhnya segala sesuatu yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Jika kita melakukan perbuatan yang baik maka kita akan mendapat balasan serta pahalanya dari perbuatan tersebut, dan pasti merasa senang akan hal itu.

Akan tetapi, bagaimana jika yang kita perbuat adalah keburukan atau sesuatu yang dilarang oleh Allah? Apakah kita akan menerima balasan dengan senang hati?

Sudah pasti kita akan menolak dan kita tidak ingin adzab mendatangi kita. Agar sesuatu buruk itu tidak terjadi menimpa kita, maka kita selaku hamba yang penuh akan dosa, alangkah baiknya kita meminta ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Karena sesungguhnya ampunan Allah begitu luas.

Jika kita sungguh-sungguh untuk bertaubat dengan kesungguhan hati dan ikhtiar kita, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa hambanya. Kita dapat menerapkannya dengan berdzikir dan istighfar pada-Nya. Dan kita dianjurkan untuk beristighfar di setiap keadaan bukan pada saat setelah shalat saja. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih“. (QS. Hud: 90)

Dalam hadits qudsi juga disebutkan bahwasannya: “Allah SWT berfirman: Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah siang dan malam, dan aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Oleh karena itu beristighfar (mohon ampun) lah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (Imam Muslim)

Dari penjelasan ayat dan hadist diatas sudah jelas, bahwasannya Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa hambanya jika mereka mohon ampun dan bertaubat .

Nabi SAW mengatakan bahwa ada satu kalimat istighfar yang disukai Allah SWT. Kalimat dzikir ini lebih dikenal dengan sebutan ‘Sayyidul Istighfar’. Dari Syaddad bin Aus RA. Nabi SAW bersabda:

اللّٰهُمّٙ اٙنْتٙ رٙبِّيْ لٙااِلٙهٙ اٙلّٙا اٙنْتٙ خٙلٙقْتٙنِيْ وٙاٙنٙاعٙبْدُكٙ وٙاٙنٙا عٙلٙى عٙهْدِكٙ وٙوٙعْدِكٙ مٙاسْطٙعْتُ اٙعُوْذُبِكٙ مِنْ شٙرِّمٙا صٙنٙعْتُ، اٙبُوْءُلٙكٙ بِنِعْمٙتِكٙ عٙلٙيّٙ، وٙاٙبُوْءُ بِذٙنْبِيْ فٙاغْفِرْلِيْ فٙاِنّٙهُ لٙايٙغْفِرُالذُّنُوْبٙ اِلّٙا اٙنْتٙ

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb ku, tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian untuk taat kepada-Mu dan janji balasan-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.”

Itulah kalimat dzikir istighfar yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca saat pagi dan petang. Karena apabila kita membaca di dua waktu tersebut, maka kita termasuk penghuni surga. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda keutamaan membaca Sayyidul istighfar.

Barangsiapa mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (Mutaffaqun ‘Alaih)

Jika dilihat sabda Nabi di atas, begitu besar keutamaan membaca Sayyidul istighfar diwaktu pagi dan petang. Setelah mengetahui bacaan dzikir Sayyidul istighfar dan keutamaannya, semoga kita dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari, dan dijaga segala aktivitas kita mulai dari pagi hingga petang oleh Allah SWT.

 

via dalamislam