Investasi, JAKARTA – PT Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA) resmi memulai proses pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia. SBMA menerbitkan prospektus awal dengan estimasi pencatatan saham IPO pada 8 September 2021. 

IPO SBMA ini sendiri akan menambah semarak pencatatan saham perdana pada triwulan ketiga 2021 ini. Pasalnya secara bersamaan juga tengah dilakukan book building atau pemesanan saham IPO untuk HAIS, MCOL, CMNT, OILS, GPSO, RSGK, IDEA, GTSI dan RUNS. 

  1. Bidang Usaha SBMA

PT Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA) didirikan pertamakali pada 1980 dengan nama PT. Surya Acetylene No. 57. Perusahaan menjalankan usaha sebagai produsen gas. Produk yang dihasilkan seperti oksigen (02), nitrogen (N2), Helium (HE), Argon (AR), Acetylene (C2H2) dan Mix Gas. 

  1. Jadwal IPO SBMA

Dalam prospektus awal, SBMA mengeluarkan jadwal indikatif IPO akan dilaksanakan pada 8 September 2021. Jadwal pencatatan saham ini masih harus menunggu persetujuan OJK. 

  • Perkiraan Masa Penawaran Awal: 19 – 23 Agustus 2021
  • Perkiraan Tanggal Efektif: 31 Agustus 2021 
  • Perkiraan Masa Penawaran Umum: 2 -6 September 2021 
  • Perkiraan Tanggal Penjatahan: 7 September 2021 
  • Perkiraan Tanggal Distribusi Saham dan Waran Seri I Secara Elektronik: 7 September 2021 
  • Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia: 8 September 2021

BACA JUGA: IPO Global Sukses Solusi (IDX: RUNS), Begini Prospek dan Bidang Usaha

  1. Harga Saham IPO SBMA

Pada gelaran IPO SBMA kali ini, saham yang ditawarkan pada rentang harga Rp 180 sampai Rp 230 per lembar. Perusahaan memperkirakan jumlah dana yang dapat dihimpun melalui IPO sebanyak-banyaknya Rp 64,03 miliar. 

  1. Jumlah Saham SBMA yang Dilepas dalam IPO

Dalam gelaran IPO Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA), saham yang dilepas mencapai 278,4 juta lembar dengan nominal Rp 100. Jumlah saham yang dilepas dalam IPO SBMA ini setara 29,99 persen saham yang disetor dan disetor penuh.  

Selain saham IPO, aksi korporasi SBMA ini juga akan diikuti penerbitan waran seri I. Jumlah waran yang diterbitkan sebanyak 46,4 juta atau setara 7,14 persen. Selanjutnya, perusahaan kembali melakukan aksi korporasi berupa kepemilikan saham oleh karyawan (MESOP) sebanyak 46,42 juta lembar saham atau setara sebanyak-banyaknya 5 persen. 

BACA JUGA: IPO GTS Internasional (IDX: GTSI) Incar Rp 429 Miliar, Begini Prospek dan Bidang Usahanya

  1. Pemilik Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA)

Pemegang saham SBMA sebelum IPO terdiri dari PT Surya Biru Titilea Investama (90 persen), Tiffany Wei 10 persen). 

Komposisi pemegang saham SBMA setelah pelaksanaan waran seri I dan MESOP menjadi PT Surya Biru Titilea Investama (57,28 persen), Tiffany Wei (6,36 persen), masyarakat (27,26 persen), waran seri I (4,54 persen), dan MESOP (4,55 persen). 

Saat prospektus IPO diterbitkan, pemilik PT Surya Biru Titilea Investama terdiri dari Effendi yang juga komisaris utama (75 persen), Dinawati (20 persen), dan Welly Sumanteri. 

  1. Rencana Penggunaan dana IPO oleh SBMA 

Dalam prospektusnya, Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA) menyebutkan rencana penggunaan IPO terdiri dari tiga hal yakni 50 persen pembelian tanah milik komisaris utama Effendi yang juga pemegang saham pengendali perusahaan. Tanah yang dibeli itu itu seluas 20,5 hektar. 

Tanah yang akan dibayar dengan dana IPO itu beralamat di Jalan Batakan Mas, Batakan KM 18, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Perusahaan menunjuk  Kantor Jasa Penilai Publik Dasa’at dan rekan untuk menaksir nilai tanah ini. KJPP kemudian menerbitkan rekomendasi nilai tanah sebesar Rp 23 miliar. 

Selanjutnya, 37 persen dana IPO digunaan untuk pengembangan pabrik. Sedangkan lainnya, 13 persen untuk modal kerja perusaan meliputi biaya produksi, overhead hingga biaya produksi. 

BACA JUGA: IPO Idea Akademi (IDX: IDEA), Ini 10 Fakta Penting untuk Calon Investor

  1. Kinerja Keuangan SBMA

Dalam gelaran IPO kali ini, SBMA menggunakan laporan keuangan audit Desember 2020. Meski demikian, perusahaan juga menampilkan kinerja keuangan per Mei 2021. 

Dilihat dari prospektus, pendapatan SBMA pada 2018 mencapai Rp 66,63 miliar. Pendapatan itu terus meningkat menjadi Rp 71,96 miliar (2019) dan Rp 74,26 miliar (2020). Sedangkan per Mei 2021, pendapatan perusahaan sebesar Rp 32,19 miliar. 

Dari pendapatan ini laba bersih tahun berjalan SBMA sebesar Rp 51,98 miliar (2018), Rp 4,61 miliar (2019), Rp 5,30 miliar (2020). Sementara per Mei 2021 laba bersih tahun berjalan mencapai Rp 272 juta. 

Seiring performa laba ini, aset SBMA turut bergerak naik. Perinciannya Rp 123,45 miliar pada 2018, Rp 127,19 miliar (2019) dan Rp 195,25 miliar (2020). Kenaikan aset pada 2020 ini dikarenakan perusahaan melakukan revaluasi aset. SBMA mencatat terjadi surplus revaluasi aset sebesar Rp 68,06 miliar. 

Untuk liabilitas, perusahaan mencatatkan besaran kewajiban Rp 51,17 miliar (2018), Rp 50,42 miliar (2019), Rp 45,27 miliar (2020). Sedangkan utang per Mei 2021 mencapai Rp 48,86 miliar.

BACA JUGA: IPO Kedoya Adyaraya (IDX: RSGK), Ini Prospek & Bidang Usaha Grha Hospitals

  1. Cara memesan saham IPO SBMA

    • Pemesanan saham IPO dilakukan dapat dilakukan melalui Sistem Penawaran Umum Elektronik (pada website www.e-ipo.co.id).
    • Melalui Perusahaan Efek tempat calon investor melakukan pembukaan rekening efek. 

Sementara untuk calon investor yang membuka rekening efek pada PT KGI Sekuritas, pemesanan dapat dilakukan dengan menyampaikan dokumen permohonan melalui investment.banking@kgi.com atau melalui surat  yang ditujukan ke alamat PT KGI Sekuritas Indonesia, dengan melampirkan:

  1.  Identitas Pemesan (Nama sesuai KTP, No. SID, No. SRE, dan Kode Nasabah yang bersangkutan)
  2.  Jumlah pesanan dengan menegaskan satuan yang dipesan (lot/lembar)
  3. Menyertakan scan copy KTP dan informasi kontak yang dapat dihubungi (email dan nomor kontak)

via tempias