Investasi, JAKARTA – PT Kedoya Adyaraya (IDX: RSGK) mengumumkan jadwal pencatatan saham IPO sementara pada 8 September 2021. 

Kedoya Adyaraya adalah perusahaan dengan bidang usaha Rumah Sakit Swasta, Praktik Dokter Umum, Praktik Dokter Spesialis, Praktik Dokter Gigi, Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh Paramedis, Perdagangan Eceran Barang Farmasi di Apotek, dan Aktivitas Poliklinik Swasta.  

Kedoya (RSGK) menjalankan rumah sakit Grha Kedoya dan Grha MM2100 (Grhahospitals Group). 

Dalam prospektus IPO Kedoya Adyaraya saham yang akan dilepaskan kepada masyarakat sebanyak 185,94 juta lembar dengan nominal Rp 200. Jumlah saham yang dikeluarkan dari portepel itu setara dengan 20 persen saham yang ditempatkan dan disetor penuh. 

BACA JUGA: IPO September 2021, Ini Profil & Prospek Cemindo Gemilang (IDX: CMNT)

Kedoya Adyaraya yang rencananya menggunakan kode saham RSGK itu akan melepas saham ke masyarakat dengan nilai Rp 1.500 hingga Rp 1.750 per lembar. Artinya, RSGK menargetkan meraup dana sebanyak-banyaknya Rp 325,39 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana efek RS Grha adalah Buana Capital Sekutiras. Sedangkan penjamin emisi efek adalah akan ditentukan kemudian. Untuk memesan saham IPO Grha, investor dapat melakukan melalui e-IPO. 

RSGK merencanakan penggunaan dana IPO sebanyak 14 persen untuk pengembangan RS Grha Kedoya. Selanjutnya, 45 persen diberikan pinjaman kepada PT Sinar Medika Sejahtera (SMS). Anak usaha yang menjalankan rumah sakit Grha MM2100. Dana itu sebagian besar akan digunakan SMS untuk membayar utang kepada Bank Permata. 

Sisa dana IPO akan diserahkan kepada  PT Sinar Medika Sutera d/h PT Sinar Medika Alam Sutera (SMAS). Perusahaan jasa kesehanan yang beralamat di Tangerang Selatan namun belum beroperasi.

BACA JUGA: IPO Prima Andalan (IDX: MCOL), Ini 10 Hal yang Perlu Diketahui

“Sekitar 87 persen (dari alokasi untuk SMAS) untuk pembangunan rumah sakit baru, yaitu Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, yang dimiliki oleh SMAS yang rencananya akan dimulai pada tahun 2021,” ulas manajemen dalam prospektus yang diterbitkan Kamis, 12 Agustus 2021. 

Saat prospektus diterbitkan, pemegang saham RSGK terdiri dari Medikatama Sejahtera (50 persen), PT Bestama Medikacenter Investama (27,5 persen), dan PT United Gramedo (22,5 persen). 

Setelah IPO terselenggara, pemegang saham RSGK akan menjadi Medikatama (40 persen), Bestama (22 persen), Gramedo (18 persen) dan masyarakat (20 persen). 

BACA JUGA: IPO HAIS Agustus 2021, Begini Bidang Usaha & Prospek Saham Hasnur Internasional Shipping

Sejarah Kedoya Adyaraya 

PT Kedoya Adyaraya didirikan pada 11 Juni 1990. Pendiri awal RS Grha adalah PT Mendjangan (81,66 persen), selanjutnya secara merata masing-masing 4,17 persen digenggam oleh Tjandra Munanto, Hendra Munanto, Lindawati Munanto, serta Minawati Munanto, sedangkan pendiri terakhir adalah Aripin Rusaini (1,66 persen). 

Akta pendirian ini terus berubah dengan kepemilika terakhri Medikatama, Bestama, dan Gramedo.

Meski tersebar di tiga pihak, pemegang saham pengendali RSGK adalah Hungkang Sutedja yang saat ini menjabat komisaris utama. Hungkang menguasai 100 persen medikatama (50 persen RSGK), sementara pendiri awal yakni empat anggota keluarga Munanto bergabung ke dalam Bestama (27,5 persen RSGK). Kepemilikan keluarga ini tersebar dalam rentang 22,45 persen – 26,55 persen dalam Bestama. 

Sedangkan sisanya Gramedo (22,5 persen) merupakan saham gabungan 63 dokter (88,66 persen) dan Sinar Semesta Medikatama. 

BACA JUGA: IPO Geoprima Solusi (IDX: GPSO): Begini Profil, Prospek dan Bidang Usahanya

KINERJA KEUANGAN RSGK

Berdasarkan laporan laba rugi yang ditampilkan oleh Kedoya Adyaraya (IDX: RSGK), perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan meski di tengah pandemi 2020 lalu. 

Pada 2018, perusahaan membukukan pendapatan Rp 242,98 miliar. Pendapatan itu terus mendaki menjadi Rp 284,7 miliar  (2019), dan Rp 294,91 miliar (2020). 

Dari pendapatan RSGK itu, yang menjadi laba bersih tahun berjalan secara berurutan adalah Rp 1,1 miliar (2018), Rp 3,93 miliar (2019) dan Rp 2,61 miliar (2020). 

BACA JUGA: IPO Indo Oil Perkasa (IDX: OILS) Incar Rp 45 Miliar, Begini Prospek dan Bidang Usahanya

Dengan pendapatan bersih yang tipis itu, perusahaan kemudian memasukkan keuntungan revaluasi aset yang mendongkrak laba tahun berjalan. Sehingga total penghasilan komprehensif tahun berjalan secara berurutan naik menjadi Rp 2,45 miliar (2018), Rp 48,67 miliar (2019) dan Rp 10,97 miliar (2020).

  • Masa Penawaran Awal : 12 – 24 Agustus 2021
  • Perkiraan Tanggal Efektif : 31 Agustus 2021
  • Perkiraan Masa Penawaran Umum Perdana Saham : 2 – 6 September 2021
  • Perkiraan Tanggal Penjatahan : 6 September 2021
  • Perkiraan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik : 7 September 2021
  • Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham pada PT Bursa Efek Indonesia : 8 September 2021

via tempias