Website – Kehadiran Toyota Raize dan Daihatsu Rocky langsun mencuri perhatian konsumen otomotif di Indonesia. Pasalnya, produk kembar ini sama-sama mengusung mesin turbo 1.0L. Penggunaan mesin kecil dengan turbocharger pada Daihatsu Rocky dan Toyota Raize ini pun menimbulkan berbagai pertanyaan, termasuk rekomendasi jenis bahan bakar yang digunakan.

Banyak yang beranggapan kalau mobil dengan mesin turbocharger, harus mengonsumsi bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertamax Turbo atau Shell V-Power. Ini pun jadi kekhawatiran bagi sebagian orang yang belum terbiasa menggunakan mesin turbocharger.

Lantas, bagaimana dengan Daihatsu Rocky dan Toyota Raize, apakah juga harus menggunakan bahan bakar beroktan sangat tinggi lantaran menggunakan mesin turbocharger?

Executive Coordinator Technical Service Division PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Bambang Supriyadi pun memberikan jawabannya. Untuk Daihatsu Rocky, jenis bahan bakar yang direkomendasikan adalah bensin beroktan minimal 91.

“Daihatsu Rocky ini rekomendasinya pakai RON 91, jadi ya kira-kira Pertalite masih oke lah. Karena secara kompresinya kan dia (Rocky) 9,5, jadi masih aman untuk Pertalite,” beber Bambang saat ditemui di acara media test drive Daihatsu Rocky di Pusat R&D PT Astra Daihatsu Motor (ADM), seperti dilansir kumparan.

Meskipun penggunaan jenis bahan bakar seperti Pertalite dinilai sudah cukup, dirinya tak melarang apabila ada masyarakat yang ingin menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih tinggi, yakni 92 atau 95. “Kalau misal dia mau pakai di atas itu, seperti Pertamax, yang enggak apa-apa. Malah lebih bagus, karena jadi jauh lebih bersih dan efeknya ke efisiensi bahan bakar juga,” sambung Bambang.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan dengan penggunaan jenis bahan bakar yang sesuai atau di atas rekomendasi, akan membuat mesin jadi jauh lebih awet. Ini dikarenakan, sisa pembakaran yang dihasilkan jauh lebih bersih.

Sementara apabila ada masyarakat yang justru nekat menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi, maka dampak jangka pendeknya akan membuat mobil jadi lebih boros bahan bakar dan mengalami penurunan tenaga.

“Penggunaan oktan bahan bakar yang lebih rendah itu nanti korelasinya sama efisiensi dan tenaga. Jadi tenaganya akan kurang dan efisiensinya enggak optimal. Dan untuk jangka panjangnya, nanti di ruang bakar akan cepat kotor karena hasil sisa pembakarannya lebih banyak,” terang Bambang.

Baca juga: Simak Perbedaan Toyota Raize dan Daihatsu Rocky, dari Eksterior Sampai Fitur

Bambang juga menambahkan penggunaan jenis bahan bakar tersebut tidak akan berpengaruh pada kinerja dan usia turbocharger. Ini dikarenakan, turbocharger lebih bergantung pada penggunaan oli yang sesuai dan bukan jenis bahan bakar.

“Turbo itu yang esensialnya adalah oli, kenapa begitu? karena turbo ini mengandalkan gas buang kemudian mengompres yang masuknya di intake, maka di putaran bearing baling-balingnya ini mengandalkan pelumasan yang dari mesin, kalau olinya enggak sesuai ya dampak buruknya bisa macet bearing-nya,” jelas Bambang.

Karena itu, untuk menjaga kualitas dan usia turbocharger, penggunaan oli mesin yang sesuai spesifikasi serta waktu perawatan atau penggantian oli yang tepat sangatlah penting. Bila tak sesuai, maka bukan tidak mungkin komponen turbocharger akan mengalami kerusakan fatal.

via momobil