“Baiklah aku akan membayarmu sepuluh kali lipat, tapi kamu harus menemaniku tidur untuk malam ini” ujar Varo sambil tersenyum dan memainkan kedua alisnya keatas dan kebawah.

“Cih aku tidak akan pernah sudi, lupakan saja apa yang aku katakan tadi” ujar Berlian yang langsung pergi meninggalkan Varo menggunakan ojek online.

“Semakin menarik” ujar Varo sambil tersenyum menatap kepergian Berlian.

“Apes, apes, apes kenapa harus naik ojek online” Berlian merutuki dirinya sendiri sambil berlari dengan terburu-buru ketika sudah sampai loby perusahaan, mengingat ojek online yang dinaikinya pecah ban ditengah jalan membuat dirinya harus datang dengan sangat terlambat.

“Wow keren sekali pegawai baru yang satu ini, ini sudah jam berapa?” tanya Putri sinis sambil bersolek ketika Berlian sudah sampai ruang kerjanya.

“Hei kamu dengar tidak” ujar Putri lagi dengan kesal saat Berlian tidak menanggapi dirinya.

“Apa kamu bertanya denganku?” tanya Berlian sambil menatap Putri yang juga sedang menatapnya.

“Jelas saja, siapa lagi yang berada disini, setan” ujar Putri lagi dengan kesal.

“Iya kamu setan perempuannya” gumam Berlian dalam hati sambil tersenyum dan mengangkat telepon intercom dan segera menuju ke ruang kerja Varo setelah menutup teleponnya.

“Bagus sekali baru dua hari bekerja sudah terlambat memang ini perusahaan nenek moyang kamu” ujar Varo ketika Barlian sudah masuk ke dalam ruang kerja Varo.

“Sudah jangan basa basi, katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku ingin segera keruangan Raka banyak pekerjaan yang ingin aku tanyakan kepada Raka” ujar Berlian sambil menatap Varo dihadapannya.

“Siapa suruh kamu menemui Raka?”

“Bukannya kamu bilang aku harus menjadi partner kerja yang baik untuk Raka”

“Tidak lagi, mulai sekarang kamu bekerja di bawah pengawasanku, dan aku yang akan mengajarimu dan itu meja kerjamu sekarang” ujar Varo sambil menunjuk meja kerja Berlian yang tidak jauh dari meja kerja Varo.

“Hufff tidak di apartemen tidak dikantor aku harus bersama dengan setan edan, lama-lama aku bisa jadi ikut edan” guman Berlian dalam hati sambil menuju meja kerjanya.

“Mau kemana kamu, aku belum selesai bicara” ujar Varo ketika Berlian menuju meja kerjanya. “Berlian” ujar Varo lagi ketika Berlian tidak menghiraukan Varo.

“Apa…………”ujar berlian ketus sambil membalik tubuhnya menatap kearah Varo.

“Kamu punya telinga tidak?, aku………..” Varo berhenti berkata sambil memegangi kepalanya, Berlian yang sedang menatap Varo tidak peduli dan langsung menuju meja kerjanya, dan menatap Varo kembali saat sudah duduk di kursi kerjanya.

“Varo” ujar Berlian yang langsung reflek berlari menghampiri Varo yang sudah terduduk dilantai dengan lemas.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Berlian lagi sambil memegang kening Varo yang masih demam dengan segera Berlian langsung membantu Varo untuk duduk di kursinya dan memanggil Raka asisten pribadi Varo dan juga mantan kekasih Berlian.

“Bagaimana dok dengan keadaanya apa dia baik-baik saja?” tanya Berlian pada dokter yang telah selesai memeriksa Varo, ketika Berlian berinisiatif membawa Varo ke rumah sakit.

“Maaf, nona ini siapanya tuan Varo?” tanya dokter kepada Berlian yang sudah duduk di hadapannya, tapi tidak dengan Varo yang masing membaringkan diri diranjang setelah dokter selesai memeriksanya.

“Saya istrinya dok” ujar Berlian membuat Raka yang sedari tadi ikut masuk kedalam ruang pemeriksaan dan berdiri tepat dibelakang Berlian langsung mengangkat kedua alisnya terkejut, berbeda dengan Varo yang langsung tersenyum mendengar perkataan Berlian.

“Tuan Alvaro Waradhana hanya mengalami masuk angin, saya sarankan tuan harus banyak istirahat dan juga minum obat ini,” ujar dokter yang memeriksa Varo sambil memberi resep obat yang harus ditebusnya.

“Menyusahkan sekali, hanya masuk angin saja sudah tumbang malu dengan pemulung bila hujan kehujanan dan panas kepanasan” ujar Berlian pada Varo ketika keduanya sudah berada di apartemen.

“Siapa juga yang menyusahkanmu, aku tidak menyuruhmu, kamu sendiri yang memaksaku untuk pergi ke rumah sakit” bela Varo tidak ingin kalah.

“Aku istrimu tentu saja aku memaksamu kalau nanti kamu mati, kamu akan lebih menyusahkanku” ujar Berlian tidak sadar pada apa yang telah dirinya katakan barusan.

“Syukurlah kamu sadar kalau kamu istriku, kamu tahu obat apa yang paling ampuh untuk diriku?”

“Apa?” tanya Berlian dengan ketus sambil menyiapkan obat yang harus diminum oleh Varo.

“Aku tidak butuh ini” ujar Varo sambil menyingkirkan obat yang berada di hadapannya. “yang aku butuhkan hanya dirimu………”

Bersambung…………..

via nextekno