“Apa yang kamu lakukan kepada menantu dan juga cucu mamah, dasar kurang ajar, mamah sudah pernah bilang kalau mau main di celupin saja, telinga kamu ditaruh mana Varo” ucap Veronica kesal saat Varo baru kembali dari ruang kerja dokter Fitri.

“Rasakan ini.”

“Ah…..sakit mah, kenapa mamah melakukan ini,” ujar Varo sambil memegangi juniornya saat Veronica menarik junior Varo dengan kencang saat junior Varo sedang tertidur pulas di balik celana segitiganya.

“Mamah apa yang mamah lakukan, bagaimana nanti kalau tidak bisa berdiri tegak sempurna seperti biasanya, siapa yang akan memuaskan diriku mamah” sambung Berlian sambil mengelus junior Varo saat Varo mendekat ke arah ranjang dimana Berlian berada.

“Astagfirullah hal azim, dunia oh dunia kenapa ada dua manusia seperti ini di muka bumi ini, untung saja cucu mamah baik-baik saja, kalau tidak sudah mamah potong junior kamu” ujar Veronica kesal ke arah Varo.

“Mamah ini juga bukan salah aku saja, Berlian yang menginginkan, aku sudah bilang jangan, tapi Berlian memaksa.”

“Memaksa?, kamu juga menginginkannya bukan, jangan banyak alasan.”

“Tentu aku menginginkannya mamah, aku sudah tidak tahan lagi.”

Pletak…….. Veronica memukul kepala Varo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri membuat Varo langsung nyengir kuda kearah Veronica, dan Veronica langsung pergi dari ruang perawatan Berlian menyisakan Varo dan Berlian yang saling melempar senyum.

“Mommy maafkan aku atas perbuatanku tadi pagi” ucap Varo sambil menggenggam kedua tangan Berlian dan dirinya langsung duduk di ranjang Berlian.

“Kenapa kamu minta maaf, aku juga yang salah karena memaksamu untuk melakukan lagi” ujar Berlian sambil membelai wajah Varo membuat Varo langsung mel*mat bibir Berlian, yang terlihat pucat tidak seperti biasanya.

“Maafkan daddy sayang, daddy khilaf, lain kali daddy akan melakukannya dengan pelan” ujar Varo saat sudah melepas tautan bibirnya dan beralih menciumi perut Berlian yang sudah sedikit membuncit.

“Varo, apa aku sudah boleh pulang, aku sudah tidak merasakan kontraksi rahim lagi, seperti tadi,”

“Tidak, kamu tidak boleh pulang, agar kamu bisa beristirahat total disini,” ujar Varo sambil memeluk tubuh Berlian dan seperti biasa Varo langsung menyusupkan kepalanya di tengah-tengah gunung kembar Berlian yang membuatnya merasa nyaman.

“Biarkan aku seperti ini mommy, rasanya sangat nyaman setelah dari tadi aku menahan untuk tidak memuntahkan isi perutku.” ujar Varo yang masih menelusupkan kepalanya di gunung kembar Berlian.

“Maaf hanya kerana aku hamil kamu harus merasakan kehamilan simpatik yang pernah dokter Fitri bilang, dan membuat kamu menjadi lemah seperti ini.”

“Kenapa kamu berkata seperti itu mommy, aku malah merasa senang karena kamu tidak mengalami apa yang biasanya wanita hamil muda rasakan, dan aku bersyukur aku yang merasakannya, dan aku bisa merasakan betapa berartinya seorang wanita yang sedang mengandung, sepertimu dirimu mommy yang rela mengandung anakku didalam sini.”

“Siapa bilang ini anakmu, ini juga anakku juga.”

“Iya maaf, ini anak hasil kolaborasi kita” ujar Varo sambil tersenyum dan langsung mengelus perut Berlian.

“Varo aku ingin sekali makan rujak tumbuk, tolong belikan untukku ya.”

“Baik mommy aku akan membelikannya untukmu,” ujar Varo lemas kemudian dirinya langsung menegakkan kepalanya yang masih menyusup di gunung kembar Berlian.

“Varo……..”

“Iya mommy.”

“Kemarilah” ujar Berlian menyuruh Varo untuk mendekat kearah Berlian. “Kamu bisa membelikan rujak tumbuk nanti, sekarang kamu istirahatlah.” ujar Berlian tidak tega melihat Varo yang begitu lemas.

“Nanti kamu marah, bila aku tidak menuruti perintahmu.”

“Untuk kali ini aku tidak marah.”

“Benarkah mommy?” tanya Varo dengan lemas sambil menatap Berlian membuat Berlian langsung merentangkan tangannya.

“Kemarilah,” ucap Berlian sambil tersenyum membuat Varo juga langsung tersenyum kemudian Varo langsung memeluk Berlian.

“Mommy?”

“Iya.”

“Apa aku boleh tidur sambil memeluk dirimu mommy?”

“Boleh mari sini naik, aku akan memelukmu” ujar Berlian membuat Varo langsung naik keatas ranjang dan dengan segera keduanya saling berpelukan.

“Terima kasih mommy, i love you.”

“I love you to daddy” balas Berlian yang langsung mencium singkat bibir Varo dan keduanya langsung memejamkan matanya.

Veronica langsung tersenyum saat dirinya kembali lagi masuk kedalam ruang perawatan Berlian, dan mendapati anak dan juga menantunya sudah terlelap sambil berpelukan.

Membuat Veronica langsung keluar dari ruang perawatan Berlian menuju taman yang berada di rumah sakit tersebut.

Veronica langsung mengerutkan keningnya kemudian mengucek-ucek matanya, takut dirinya salah melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan Veronica langsung menuju arah obyek yang sedari tadi Veronica lihat.

“Bu Mi.” ucap Veronica membuat bibi Ami langsung menatap Veronica dengan tersenyum malu.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Kami tidak melakukan apapun, kami hanya sedang berbincang-bincang, setelah tadi saya membantu bibi Ami mengantar Berlian ke rumah sakit.” ujar pak Cul dengan grogi.

“Benar apa yang dikatakan pak Cul, bu Ver.” sambung bibi Ami membetulkan ucapan dari pak Cul.

“Ha ha ha…..” tawa renyah keluar dari mulut Veronica. “Kenapa kalian seperti anak abg yang ketahuan sedang backstreet, tenang saja, kalian tidak usah menutupi apapun dariku, aku sudah tahu dan sering melihat kalian berdua seperti ini.” jelas Veronica membuat pak Cul dan juga bibi Ami saling menatap.

“Apa yang bu Ver katakan, aku tidak mengerti?”

“Iya bu aku juga tidak tahu.” sambung pak Cul.

“Ha ha ha, tidak masalah kalian menjalin hubungan toh kalian berdua masih single.”

“Dari mana bu Ver tahu kalau kita menjalin hubungan?” tanya bibi Ami penasaran.

“Ha ha ha benarkan, aku tidak salah cihuy ada pasangan baru nih, walaupun pasangan sudah bau tanah, cepat halalin pak Cul, tidak kasihan itu juniornya yang sudah berdiri tegak, tapi sepertinya junior pak Cul seperti cabe keriting, sebelum menghalalkan bu Mi, pak Cul pergi dulu ke klinik mak Erot, biar bisa merubah dari cabe keriting menjadi cabe besar, ha ha ha,” ujar Veronica sambil tertawa saat melihat junior pak Cul sudah berdiri tegak, kemudian Veronica meninggalkan keduanya yang masih belum paham seratus persen pada apa yang dikatakan oleh Veronica.

“Beb Apa benar dengan yang dikatakan bu Ver kalau juniormu seperti cabe keriting?, kita batalkan saja niat kita untuk menikah kalau punya kamu hanya sebesar cabe keriting.”ujar bibi Ami dan langsung pergi meninggalkan pak Cul.

“Beb tunggu, aku akan pergi ke klinik mak Erot untuk membesarkan nya, jangankan sebesar cabe besar sebesar pisang Belitung juga bisa.” teriak pak Cul yang langsung mengikuti bibi Ami dari belakangnya.

“Pisang Belitung, bentek dong?”

*

*

*

Bersambung……………

via nextekno