Sumber: Batu bara

Website – Dua perusahaan tambang batu bara, ADRO dan PTBA masih mengandalkan ekspor untuk mencatatkan pendapatan, terutama melihat tingginya permintaan batu bara dari China.

“Fundamental permintaan batu bara secara jangka panjang masih menguat, terdongkrak oleh peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan infrastruktur,” tutur Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Mahardika Putranto.

Dilihat dari segi permintaan untuk batu bara metalurgi diperkirakan masih akan mencapai 400 juta ton pada tahun 2030 mendatang. Sementara itu, secara trend jangka pendek akan ada peningkatan kebutuhan musim dingin di negara-negara berkembang.

“Permintaan di Asia Tenggara masih akan ada potensi peningkatan. Vietnam masih akan bergantung kepada batu bara secara impor karena masih terjadinya keterbatasan pasokan listrik, dan akan masih akan ada 7GW PLTU baru yang beroperasi,” tuturnya pada paparan publik, Senin (6/9/2021).

Secara global, kapasitas PLTU yang sudah terpasang ada 20.000 GW. Ada 185 GW tambahan PLTU di seluruh dunia, terbesar di negara China dan negara India. Di negara Indonesia sendiri ada 73 GW kapasitas PLTU yang terpasang.

“Ini mencerminkan bahwa tingkat permintaan batu bara masih akan solid di wilayah Asia,” lanjutnya.

Pada paruh pertama di tahun ini, ADRO tercatat menyalurkan produksinya sebagian besar untuk tujuan ekspor, dan negara China sebagai penerima terbesar.

ADRO menyalurkan produksinya sebanyak 28%. Kemudian, 22% ke seluruh negara ASEAN, 20% ke China, 18% ke Asia Timur, 10% ke India, dan 2% ke Selandia Baru.

Sama halnya dengan ADRO, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga tetap akan berfokus pada pasar ekspor pada semester II tahun 2021.

Pendapatan PTBA tumbuh 14%. Salah satu konstribusi terbesarnya terkait dengan ekspor.

Pada kuartal I tahun 2021, ekspor PTBA masih minoritas dan pasar domestik masih mendominasi, hampir 70%. Namun, pada kuartal II tahun 2021, PTBA memanfaatkan dengan baik kenaikan harga dan perbaikan kondisi cuaca.

“Secara kinerja di semester I tahun 2021 proprosi domestik hanya 63% saja, ini bukan hal mudah. Tapi dari angka ekspor kita didukung oleh penjualan HCV (Batubara Kalori Tinggi) yang naik 3%,” tuturnya.

Lanjutnya, PTBA sudah mengantongi 92% kontrak penjualan dari target produksi 2021. Batubara yang diproduksi PTBA laris manis, dari domestik dan ekspor, di mana penjualan ekspor pada kuartal II tahun 2021 naik 63%.

“Kita meningkatkan ekspor di kuartal II tahun 2021 karena kita yakin apalagi dengan aturan DMO 25%, kita pada kuartal II tahun 2021 ini sudah mencapai DMO 61% dan lebih tinggi dari target PTBA sebesar 50%. Sehingga di kuartal II tahun 2021 kita fokuskan untuk ekspor,” lanjutnya.

Beberapa negara di dunia juga antusias dengan batu bara dari PTBA karena PTBA termasuk produsen dengan varian batu bara yang sangat lengkap, sehingga permintaannya menjadi tinggi.

“China sendiri mereka demand-nya naik 9 x lipat, Filipina naik 5 x lipat. Porsi alokasi China jadi negara ekspor tujuan kita sekitar 16%, Filipina mencapai 4%. Sesudah China, permintaan dari India juga besar. Batubara kami demandnya banyak, sehingga kami tidak ragu untuk terus naikan produksi,” tuturnya.

Lebih detail, peminat batu bara PTBA secara global di China 16%, India 5%, Taiwan 4%, Filipina 4%, Malaysia 2%, dan Vietnam 2%.

Sumber: ADRO dan PTBA Menangkap Berkah Permintaan Batu Bara dari China, dengan perubahan seperlunya.

via ajaib